 St lucia South bus stop, suatu hari "Hello, howzit going?" sapanya padaku. "Goood" jawabku standar. Sebuah pertanyaan basa basi yang biasa, dan kujawab dengan biasa pula. Meskipun, yaah, cukup menunjukkan keramahan pemiliknya untuk ukuran seorang sopir bis. Dari puluhan, bahkan mungkin ratusan sopir bis kutemui selama 1.5 tahun aku tinggal di Brisbane ini, macam macam lagaknya. Sebagian besar ramah dan baik, tapi tak jarang juga yang judes, tak pedulian, kasar, atau bahkan diskriminatif. Jadi, ndak ada istimewanya kan, dia? Aku mengangsurkan koin dan menyebut jenis tiket yang kuinginkan. Dia melayani dengan riang. Kumasukkan sepotong kertas itu ke holdernya, dan kuambil tempat duduk di belakang kursi pengemudi. "nice weather isn't it?" Dia seperti masih ingin mengajakku ngobrol lagi. "yeah, it is..." Jawabku masih tetap pendek-pendek, tetap tidak terlalu antusias. Percakapan tentang cuaca juga suatu hal yang biasa. Lagipula aku sedang ingin beristirahat. Namun, diam-diam kuperhatikan rupanya dia selalu menyapa setiap penumpang dengan antusias. **** St Lucia South bus stop, suatu hari yang lain. "Good Morniiing..." sapaku riang pada sopir bis yang sedang berdiri di depan halte. "Morning..." Fatih mengikutiku sambil memamerkan senyum rekahnya. "Good morning, how r u?" jawab sang sopir sambil memasuki bisnya, siap melayaniku. Aku mengikutinya lalu menyebut tiket yang kumau. Sebuah rutinitas yang sudah kuhapal. Setelahnya kuambil tempat duduk di bangku paling depan sebelah kiri, favourit Fatih. 'You are studying at d uni?" sopir itu mengajakku bicara. "Yeeah, and this is my final semester," jawabku lebih panjang dari pertanyaannya. Jadwal keberangkatan bis masih beberapa menit lagi. Dan kami pun terlibat percakapan lebih panjang. Tentang jurusan yang kuambil, tentang negara asalku, tentang keluargaku dan keluarganya. Ia bercerita bahwa anaknya enam (woow, ternyata ada ya bule aussy beranak enam?). Beberapa dari mereka juga lulusan UQ. Sesekali dia juga mengajak Fatih bercakap-cakap. Di tengah perbincangan kami, aku mulai teringat, si kakek sang sopir bis yang masih energik ini adalah sopir bis ramah dan periang yang kutemui sebelumnya. Obrolan kami terhenti ketika bis harus berangkat. Lagi-lagi, kuperhatikan, dia mengendarai bis dengan enjoy, dan melayani setiap penumpang dengan riang. Suasana riang pun melingkupi seluruh penumpang. *** St Lucia South bus stop, suatu pagi yang lain lagi, beberapa hari sebelum ledakan bom di Ritz Carlton n JW Marriot, Jakarta 'Hellooo...." Bis biru kuning dan pengendaranya yang juga berseragam biru menyapa kami, aku, anakku dan suamiku. Ahaa, Kakek itu lagi! Aku masih sangat mengenalinya. Dia tampak juga mengenaliku,...atau mungkin tidak juga. Bisa jadi sapaan akrabnya lebih akrena ia memang ramah selalu. "Wanna go to the city?" tanyanya. "Yep, just go around. this week is our last week in Brisbane. we will fly to our home country next week," hehehe, lagi-lagi aku menjawab pertanyaan basa-basinya dengan panjang lebar. Dan lagi-lagi, semua berakhir dengan obrolan akrab dan panjang. Dia bertanya tentang Indonesia, tentang pekerjaan suamiku, menanyakan studiku, ngobrol dengan Fatih, berkomentar tentang hubungan sosial warga dunia dari berbagai agama, bercerita tentang kunjungannya ke Bali sekian tahun sebelumnya, tentang bangunan milik UQ di pojok roundabout Uni( aka musholla) dan sebagainya. Bahkan, kemudian dia mengijinkan suamiku berpose di kursi drivernya. Ia juga membiarkan Fatih bermain dengan bel penanda penumpang minta turun. Di bus stop kedua setelah keberangkatan, dia rela menghentikan bisnya, menunggu calon penumpang yang berlari terengah-engah mengejar bisnya. (hhmm, dia sungguh beruntung. Cukup sering aku dan banyak calon penumpang lainnya mendapati pak sopir menutup pintu bisnya tepat saat kita tiba di depan pintu). "You wanna more exercise? I will wait in the next stop and you can run farther there..." candanya pada si pemuda berambut pirang itu. "Thank you...thank you..." si pemuda berterima kasih berkali-kali sambil masih mengatur napas. Menjelang city, Fatih rewel minta susu. Si Kakek memintaku menyuruh Fatih memencet bel, namun suara yang berisik membuatku salah menerima instruksi hingga aku sendiri yang memencet bel. Ia hanya tertawa dan mengulangi instruksinya lagi. " R u happy now?" katanya pada Fatih setelah anak lelakiku satu satunya itu memencet bel. Turun dari bis, kami mengucap "thank you" seperti biasa. "Wait..." katanya sambil merogoh kotak tempat koin. "Gimme your hand," lajutnya pada Fatih. Dua koin kuning satu dolaran pun berpindah ke tangah Fatih. "This to buy chocolate..." ia tersenyum. "Thanku..." kata Fatih sambil melambaikan tangan. Kami saling berbye-bye seperti anak cucu dengan kakeknya. *** Sopir bis itu, semoga anda yang di brisbane akan bertemu dengannya suatu saat. Jamal namanya. Bosnia tanah kelahiran dan moyangnya. Ia seorang muslim. tepian Brisbane river, 18/07/09 3.57pm tulisan yg tertunda berhari-hari
pagi-pagi, dingin, hujan, mau belajar, eh, tiba2 aku ingat kamu. ingat juga teman2 lain speerjuangan dulu. dan rindu pun menyerbu. jadi pengin nulis juga. Dan kupikir, menulis pelajaran yg kudapat dr kamu adalah hal terbaik untuk berbagi tentangmu. kamu, sejak muda sudah menulis. terinspirasi oleh kakakmu mungkin? ah, itu aku tidak tahu. yang kutahu, kemudian kita bertemu karena hoby satu itu. DI tengah pekerjaanmu sbg 'tukang ketik bahasa komputer' (sorry, aku tak tahu istilah u/ anak2 TI macam kamu), kamu menyempatkan diri menulis dan berkumpul dg para penulis. Karyamu berkualitas. Aku, dan banyak yg lain, tahu itu sejak awal. hanya saja, kau dan juga karyamu, tdk dikenal sbg 'best seller'. Sesuatu yg wajar, krn tdk semua yg best seller adalah berkualitas. dan tidak semua yg berkualitas menjadi best seller. Hingga suatu hari, kau memutuskan untuk berhenti bekerja dan fokus menulis. Sebuah keputusan 'gila' bagi orang pada umumnya, termasuk menurut salah seorang keluarga dekatmu yg kukenal dekat juga. Oh, aku pernah tidak ngomong ke kamu, kalau aku dan keluarga dekatmu itu kadang ngobrolin kamu? bukan, bukan nggosip, hanya berdiskusi ttg pilihanmu. Bagaimana pun, sebagai lajang yang perlu menghidupi diri, kau perlu 'bekerja'. Dan pada dasarnya kau sudah bekerja, kenapa ditinggal? Dan kenapa tidak mau mencari kerja lagi yg sesuai dengan pengalaman kerjamu? mengapa 'hanya' menulis yang penghasilannya tak menentu? Bahkan kalau kau mau, keluarga dekatmu itu sudah menawarkanmu untuk mencarikan pekerjaan untukmu. Waktu itu, aku memberikan pendapat akhir: semua adalah pilihan. Dan kau berhak untuk memilih yg kau mau, selama kau bertanggung jawab atas pilihanmu. Bahkan aku menyatakan kesalutanku padamu, yang berani mengambil resiko itu, tidak sepertiku yang tetap mendua dan akhirnya memilih untuk tetap tinggal di zona nyamanku: menjadi PNS! Dan begitulah yg kutahu. Kau menulis. banyak. Bahkan sudah seperti kantoran saja kamu. menulis menulis dan menulis dari pagi hingga sore. Dari sore hingga larut. Mostly cerpen atau novelet. untuk majalah, koran atau lomba. tidak buku. "karena aku butuh yg menghasilkan uang cepat untuk menopang hidupku", katamu. Setelah itu, dalam seminggu, nyaris selalu kujumpai namamu, di berbagai majalah dan koran yang terbit di indonesia. Well, kau bilang, untuk 1, 2,3 naskah yang terbit per minggu, kau harus menulis brkali lipat dari yang termuat itu. Dan kami menyaksikan semua. karyamu kian berkualitas saja. hingga kau pun menjuarai lomba dimana-mana. Buku? rasanya tidak lagi jadi pilihanmu. Meski, tetap saja, kau butuh penyambung hidup. Di neegri kita, bahkan setelah sebegitu keras kerjamu, menulis lepas belum bisa dijadikan sandaran hidup. Kau sering khawatir kalau uang habis, sementara honor baru belum datang juga. Pun, kau jarang dan enggan mampir ke keluarga dekatmu itu, sebagai tanggung jawab atas pilihan yg kau buat. Setelah itu, kudengar, kau ikut dalam tim penulisan skenario sinetron yg mulai menjamur ketika itu. keterlibatan kita dalam jaringan penulis yang mempertemukanmu dengan para penulis skenario yang sudah eksis waktu itu. Ketika kukonfirmasi, kau bilang belum. hanya masih coba-coba, belum sepenuhnya. lalu aku pergi. meneruskan duniaku sendiri. menjalani pilihan yang kuambil kini. Dan suatu hari, dalam percakapan maya kita yang kadang-kadang saja, kau bilang kini kau kerja di televisi. sebagai supervisor writer script (tak tahulah apa istilah tepatnya ). Meski tak kulihat bahasa tubuhmu, aku tahu semangatmu yang menggelora, ketika kau bercerita, orang2 televisi itu tak sepenuhnya bobrok. tak sepenuhnya hanya kejar untung dengan menayangkan segala hal yg picisan dan menghasilkan uang. Banyak yang tetap idealis. Dan kau senang bisa menjadi bagian dari mereka. mencoba membangun negeri, menciptakan tontonan bermutu melalui televisi. Setelah itu, aku tak ingat, kapan kita ngobrol lagi. Pasti kamu sudah sangat sibuk, aku tahu, seperti itu dunia televisi. Lalu kini, melalui jaringan pertemanan maya ini, aku tahu, bahwa bukan cuma kamu. Banyak yang lainnya, teman-teman kita, yang kini pun mengambil jalur yang sama denganmu. termasuk kawan-kawan diskusi kita dulu. termasuk kawan-kawan penulis hebat yang juga sudah eksis di penerbitan (hoi para mas dan abang, apakabar?). Dan merenungi semua, apa yang kau dan mereka dapat kini, tak lepas dari kekonsistenan kerja keras selama ini. Aku tahu itu pasti, karena kalian pernah kubersamai. Kini aku hanya ingin berpesan. Buat kamu dan juga yang lain (ah, tak usah kusebut nama kalian yah? tak perlu pula kutag tulisan ini dengan nama kalian. kalian pasti tahu maksudku. Atau kalau pun kalian tak sempat baca, biarlah ini jadi pelajaran hidup bagi kami saja:) ) Buat kalian semua: aku hanya ingin berpesan satu saja, jangan lupakan idealita kita dahulu. Bahwa kita menulis untuk mencerahkan umat. Bahwa kita berkomitmen untuk membuat karya berkualitas. Selamat mewarnai dunia kawan, melalui jalur pertelevisian dan perfilman! Oh ya, khusus buat kamu. nanti klo aku dah pulang ke indo, akan kutemui keluarga dekatmu itu dan akan kubilang padanya: Kau kini telah memetik hasil dari pilihan beresikomu dulu. Kau telah membuktikan keberhasilanmu berkat kekonsistenan dan kerja keras atas pilihan itu. meski itu, membutuhkan hampir 5 tahun waktu. Cinta, hmmm, dengerin ya, aku mau bikin pengakuan. Klo akhir-akhir ini, aku sering bolos kuliah malam, hanya karena aku takut tak ketemu kamu sebelum kamu terlelap di peraduan. (Ah, tidak 100% bolos ding. Yang terjadi adalah aku pindah schedule ke waktu kuliah yg tidak ku-signon, sehingga dari yg tadinya 1x afternoon lecture dan 2x evening lecture menjadi 2x afternoon lecture and 1xevening lecture (yg terakhir ini sering kulakukan scr remote karena ada podcast-nya di blackboard)) Dan tahukah kamu cinta, aku juga tak lagi nongkrong hingga malam di library. Maksimal jam 7pm, aku sudah tergopoh-gopoh pulang. Dengan jantung berdegup kencang, aku berharap engkau masih bangun. Itu-pun , kadang sampai rumah ku sudah tak ketemu lagi dengan tawa lebarmu, karena kau sudah tenggelam di alam mimpi setelah beraktifitas seharian di day care centre. Ya, sudah hampir setengah tahun ini, dari senin hingga jum’at, sejak jam 8am hingga 5pm kau habiskan waktumu di day care centre. Sementara, aku berbenah, bekerja dan belajar pada rentang waktu yang sama, bahkan seringnya hingga malam tiba. Itulah mengapa, aku sangat merindukanmu di akhir hari. Aku ingat cinta, hal yang sama kulakukan pada tahun pertama kehidupanmu dahulu, saat aku selalu berpacu menuju rumah sepulan kantor, karena ingin bertemu denganmu saat kau masih bangun. Waktu itu, aku tak rela menjumpaimu sudah tertidur, sedang saat kutinggal berangkat, kau belumlah terbangun. Untungnya selama di brissie ini, karena jadwal tidurmu cepat, kau sudah bangun saat subuh belum menjelang. Hingga kita pun masih sempat beraktifitas bersama sebelum jam 8am saat engkau berangkat ke day care dan aku ke kampus atau kerja. Dan tampaknya, akhir-akhir ini kau juga sudah hapal dengan jadwalku. Sehingga, biar pun bapak membawamu ke peraduan jauh sebelum jam 7pm, matamu tak mau memejam, meski botol susu dan botol air putih telah kosong bermenit sebelumnya. Bahkan biasanya bapak yang duluan terlelap. Kau diam menatap lampu dan menghitung waktu, menunggu pintu kamar terbuka dan wajahku menyembul dari balik pintu. Lalu senyum lebarku bertemu dengan tawa serta ocehanmu. “Sudah abis milk,” katamu. “Bapak bobok,” katamu lagi. Dan kemudian, waktu pun serasa hanya milik kita berdua. Kadang kita hanya sekedar bercanda dan berpelukan, hingga berakhir pada al fatihah dan doa mau tidur. Kadang kau mengajakku bernyanyi dan bercerita. Tak jarang pula kau minta bermain, baca buku dan menonton video nursery rhymes n lagu anak islam untuk yang kesekian kali. Sampe ketemu lagi malam ini cinta. Tapi, ssstt, jangan lama-lama ya maen sama ibu, biar tak kemalaman tidurmu. Lagian, bapak suka cemburu, karena jika ada ibu, bapak jadi tidak laku, hihihi. Sungguh hidup adalah sebuah pilhan, yang di dalamnya pun berupa pilihan pilihan Dan setiap pilihan, selalu disertai dengan setiap konsekuensi dan resiko Maka apa pun yang kau pilih, pahamilah pula resiko yang menyertai Kemudian pertimbangkan, seberapa sanggup kau akan menanggungkannya? sungguh hidup adalah sebuah pilihan, yang di dalamnya berisi kesempatan-kesempatan Bisa jadi kesempatan itu akan memberikan hasil yang kau inginkan, namun selalu ada kemungkinan berkebalikan Maka jika kau putuskan mengambil kesempatan itu, ketahuilah akan adanya dua kemungkinan: menyenangkan dan menyusahkan Dan persiapkan dirimu atas semua kemungkinan itu : Untuk tidak terlalu bersuka akan kabar gembira, pun tidak terlalu lara atas kabar duka Hidup ini adalah pilihan, yang di dalamnya adalah pilihan-pilhan dan resiko-resiko Selama ia bukan antar dosa dan pahala Selama ia adalah urusan dunia dan manusia Maka berdoalah, bertimbanglah, dan pilihlah, kemudian melangkahlah, lalu pasrahlah. Dia yang Maha Tahu yang akan menentukan hasilnya Dia yang maha tahu yang kan berikan yang paling sesuai untukmu Meski mungkin itu bukan yang kau mau. Maka tetaplah melangkah dan progressiflah Dengan begitu kau akan tahu seberapa mampu dirimu tepian brisbane river 22/04/09 11.09pm "bersama waktu, menunggu sunatullah kembali berlaku kira-kira apa hasil dari pilihan kami kali ini?" Harus saya akui, salah satu sifat buruk saya adalah ceroboh dan pelupa. Dan salah satu akibat dari sifat tersebut adalah saya seringkali kehilangan barang. Dan selama saya tinggal di Brisbane ini, sudah sekian kali saya kehilangan barang karena jatuh, ketinggalan dan ketidasengajaan lainnya. Namun yang menakjubkan adalah hampir semua barang yang hilang itu akhirnya kembali pada saya. Pertama dulu kehilangan HP selama dua hari, Alhamdulillah di hari ketiga kembali. Kebetulan ketingalannya di musholla dan yang menemukan mahasiswa Indonesia juga. Setelah itu sempat beberapa kali ketinggalan HP di taman ataupun di library ataupun laboratorium computer selama beberapa jam. Namun ketika teringat dan segera kembali ke tempat barang tertinggal, Hp itu masih nongkrong di tempatnya tanpa ada yang menyentuh (despite of bentuk dan kelasnya yang memang hp murahan). Beberapa waktu kemudian saya ketinggalan pencil case berisi 2 flash drive dan berbagai stationary penting di work station library. Ketika saya kembali 3 hari kemudian, barang itu juga masih utuh. Pernah pula ketinggalan dompet di bank, tapi Alhamdulillah di selamatkan staff bank tersebut. Memang sih, akhirnya pencil casenya akhirnya pergi tak kembali karena kemudian ketinggalan lagi dan juga segepok kartu2 id hilang tak kembali, namun hanya dua kejadian itu. Terakhir, weekend kemarin, kartu ATM yang (dengan ceroboh) saya taruh bersama tiket bus di tiket holder jatuh entah dimana (mestinya sih di perjalanan karena tiket kan saya pegang2). Pagi ini saya baru saja hendak melapor ke cabang bank terdekat ketika seseorang dari bank yang ngeluarin kartu ATM saya menelepon dan meminta saya mengambil kartu ATM itu di kantor cabang mereka. Ya, seseorang telah menemukan ATM saya dan dengan rela hati mengantarkannya ke kantor cabang tersebut (which is di city sono). Sungguh saya memang beruntung, Allah masih mengijinkan barang2 tersebut bersama saya. Namun yang ingin saya komentari adalah: mengapa orang2 yang melihat/menemukan barang2 tersebut tidak berminat untuk memilikinya, bahkan berela hati untuk mengembalikan? Padahal kalau saja kejadiannya di Jakarta, sekian puluh persen kemungkinan bakalan hilang tanpa jejak, atau kembali dengan permintaan bayaran, atau kembali dengan isi sudah terkuras. Banyak kemungkinan jawaban untuk pertanyaan di atas. Namun saya meyakini dua hal: 1. Tingkat ekonomi yang telah sampai pada tingkatan orang tidak perlu lagi mencuri/mengharap barang temuan untuk menghidupi diri 2. Sikap/behaviour/pendidikan dan etika yang sudah sampe pada level menghargai hak milik orang lain dan tidak mengambil/menyentuh yang bukan hak(milik)nya. Well, Islam mengajarkan keduanya. Islam mengajarkan bahwa seorang muslim yang memiliki ekonomi kuat lebih disukai, dan ada hadist yang memberikan warning bahwa kefakiran sangat dekat dengan kekafiran. Islam juga mengajarkan bahwa mengambil sesuatu yang bukan haknya adalah berdosa. Sayangnya, ajaran ini belum menjadi sesuatu yang mendarah daging dalam kehidupan kaum muslim (dan orang Indonesia) pada umumnya. Dan bisa jadi, itu karena tingkat ekonomi telah membuat orang terpaksa mengambil milik orang lain, hingga kemudian tidak peduli lagi pada hak orang lain. Wallahu a’lam Rasanya sungguh tertekan jika kita harus menghadapi masalah yang kita buta sama sekali tentangnya. Panik, bingung, sedih, marah dan segala emosi bercampur menjadi satu. Namun ditengah berbagai rasa itu harus ada langkah yang perlu diambil, karena ‘merasa’ saja tidak akan menyelesaikan masalah. Dan ketika langkah itu diambil, maka percayalah, akan ada pelajaran dan ilmu lebih yang bias didapat justru karena adanya permasalahan itu. **** Selama tinggal di Queensland ini, sudah dua kali saya menghadapi permasalahan yang saya bersyukur pernah berurusan dengannya. Yang pertama adalah ketika suami mendapat perlakuan yang tidak adil, diskriminasi dan tidak seluruh jam kerjanya dibayar di tempat kerja pertamanya dulu. Saat itu, yang mengemuka pertama kali adalah segala rasa diatas, plus frustrasi plus ketidakberdayaan. Sempat muncul sikap yang khas jawa (sorry SARA), yaitu pengen ngamuk (refer to kejadian kerusuhan di jawa tahun 1998-1999 dimana orang jawa yang alus dan nrimo akhirnya ngamuknya dasyat ketika disakiti terus menerus). Tapi pada akhirnya saya berpikir bahwa kami harus melakukan sesuatu. Pilihannya beberapa: 1) Diam saja dan terus bekerja (sayang dolarnya!), 2) diam saja dan resign (cari kerja yang lain), atau 3) melaporkan ke pihak yang berwajib dan menuntut hak. Saya dan suami berkonsultasi ke banyak pihak yang menurut kami bisa membantu. Di antaranya ke teman teman sesama pekerja Indonesia (yang secara tersirat semua responses adalah ambil aja pilihan 1 or 2) , ke International Student Adviser yang ngasih saran ambil pilihan ke 2 tapi juga merefer agar kami pergi ke Solicitor, ke Solicitor yang bilang bisa bantu kami ngirim somasi ke perusahaan tapi lebih menyarankan agar kami melapor ke workplace ombudsman karena institusi ini adalah lembaga pemerintah yang berkompeten menangani permasalahan di tempat kerja. Maka kami pun browsing, mengisi form laporan dan melampirkan bukti2 dan mendatangi langsung kantor ombudsman. Hari itu juga, mereka mewawancari suami (investigasi pertama) dan selanjutnya kami menunggu. Beberapa minggu kemudian mereka mengirim surat bahwa mereka akan menginvestigasi pihak perusahaan. Beberapa minggu berikutnya mereka melakukan wawancara ulang terhadap suami via telepon, setelah itu sepi. Berhenti. Kami sempat harap harap cemas dan sempat berpikir akan kembali ke solicitor sebagai step terakhir, tapi belum sempat kami mengambil langkah ini kami mendapat kiriman surat dan cek dari workplace ombudsman yang menyatakan bahwa suami berhak mendapatkan haknya yang tidak dibayarkan oleh perusahaan (karena memang cuma itu yang kami tuntut, sedang mengenai diskriminasi dll tidak kami laporkan walaupun si ombudsman pernah nanyain n bilang bahwa kami bisa menuntut pula untuk hal tersebut) dan permasalahan dinyatakan selesai. Alhamdulillah, kami mendapatkan apa yang kami usahakan, selain itu saya juga bersyukur, karena permasalahan tersebut kami jadi lebih tahu mengenai sistem legal mengenai permasalahan tempat kerja di Australia khususnya QLD. Permasalahan kedua adalah ketika saya terima bill dari Queensland Ambulance Service (QAS) yang menyatakan bahwa saya harus membayar sebesar 930AU$ atas layanan ambulance yang dipake Fatih dari UQ Health Service(UHS) ke Royal Children Hospital (RCH) bulan maret lalu. Sempat kaget dan bertanya-tanya karena sejauh yang saya tahu kami berhak atas layanan ambulance tapi kenapa kena charge? Dan besarnya chargenya itu lho, mengejutkan (saya tahu mahal tapi tak mengira akan semahal harga pesawat pulang kampung kelas SQ dan QANTAS economy one way). Tapi saya (mencoba) relative rileks dan pasrah. Saya bilang, saya akan konfirmasi ke pihak2 yang mungkin saya bisa konfirmasi. Kalau pun harus bayar, anggap saja itu harga ’kebodohanku’ atau nilai yang mungkin akan diambil Allah dariku karena aku kurang beramal. Maka saya ke UHS, ke OSHCWOrldcare representative (penyedia private asuransi saya), ke student Centre(SC) dan menelepon QAS sebagai pihak yang ngirim bill. UHS, OSHC, SC semua bilang Fatih eligible for ambulance service, tapi tidak bisa membantu memberikan official statement or certificate yang menyatakan Fatih eligible seperti yang diminta QAS. Akhirnya saya ngirim OSHC family plan temporary certificate yang ternyata tidak berlaku/tidak bisa dijadikan bukti. Tapi dari response QAS itu saya jadi tahu, bahwa saya hanya perlu mengirimkan copy Queensland driving licence (sayangnya saya ga punya), bank statement (bisa diminta ke bank, tapi kan atas nama saya? Bukan Fatih?) atau QUEENSLAND STATUTORY DECLARATION yang ditandatangi pihak berwajib. Oooh, rupanya QSD ini yang diminta, tapi dimana saya bisa mendapatkannya? Saya tunjukkan suratnya ke direktur day care tempat saya menitipkan Fatih sambil minta barangkali mereka bisa ngasih saya surat pernyataan bahwa Fatih tiap hari attending the centre and live with me in st lucia. Ternyata si Ibu bilang, QSD form bisa dibeli di post office, isi dengan keterangan yang diminta, dan minta pihak yang berwenang untuk certify it. Karena kemarin sempat ngurus legalisir passpor, saya tahu bahwa ada banyak pihak yang bisa saya minta untuk certify QSD tersebut. Dan setelah saya beli formnya, disitu ada list yang panjang sekali mengenai siapa saja yang berhak me-certify. Alhamdulillah, tambah ilmu lagi. Saat menulis ini, saya baru akan membalas surat dari QAS dan menyertakan dokumen2 yang mereka minta, masih ada kemungkinan ditolak, tapi kayaknya kecil. Yah, memang dalam kedua kejadian di atas, saya menjadi sangat repot, kesana kemari, makan waktu, biaya, tenaga dan pikiran serta perasaan, tapi itu memang harga yang harus saya bayar untuk ’ilmu’ di atas. *** Ada lagi permasalahan yang tengah saya hadapi. Tapi ini adalah permasalahan klise yaitu exams dan assignments. Betapa sering saya merasa tidak mampu. Betapa sering saya merasa pengin menyerah. Betapa sering saya merasa lelah dan ingin masa bodoh. Tapi berkaca dari permasalahan di atas, saya ingin mendulang semangat, bahwa insya Allah setelah berbagai kelelahan dan membayar semua harga atas permasalahan yang saya hadapi, saya akan mendapatkan nilai tambahnya: ilmunya. Kuncinya hanya satu, bersikap progressif, assertif, positif dan bekerjalah. Ayo ibu Fatih, fa idza faraghta fanshab! Telah berkali aku bercerita tentang perempuan yang kupanggil Ibu itu. Namun rasanya aku tidak akan pernah bosan membagi kisah tentangnya lagi. Setiap interaksiku dengannya selalu membuatku makin menghormati dan mencintainya, lebih dari sebelumnya. Ibu adalah seorang perempuan desa perkasa, yang terbiasa dengan pekerjaan kasar dalam kehidupan kesehariannya. Pekerjaan kasar dalam rumah tangga, pekerjaan kasar dalam membatu mencari penghasilan tambahan dan pekerjaan kasar dalam kehidupan social. Semua pekerjaan itu, membutuhkan kekuatan fisik (dan mental) yang luar biasa. Apalagi, dalam sehari ia kadang harus melakukan ketiganya sekaligus. Ia harus memasak dan berbenah rumah (yang tentu saja semua manual tanpa bantuan peralatan canggih modern), kemudian pergi ke sawah (ketika muda buruh ke pabrik atau membuat batu bata) dan setelahnya ia sering masih harus membantu di tempat orang yang punya hajat (dan di kampung kami, hampir tiap hari ada orang hajatan yang mempercayakan urusan dapur untuk para tamu pada ibuku). Diluar semua pekerjaan kasar itu, Ibuku juga memiliki aktifitas religious dan organisasi pula seperti di kelompok ibu2 yasinan, ibu2 aisyiah dan perkumpulan Lansia (lanjut usia). Dan atas semua pekerjaan kasar yang telah dijalaninya sepanjang hidup itu, Ibuku tidak pernah mengeluh. Ia menjalaninya dengan sepenuh hati dan lapang dada. Bahkan di tahun-tahun terakhir, saat tubuhnya mulai dimakan usia, saat osteoporosis dan asam urat mulai menemani hari-harinya, Ia masih tetap bekerja disawah (yang hasilnya kadang tidak sebanding dengan biaya dan tenaga yang dikeluarkan) dan membatu tetangga yang punya hajat atau tertimpa musibah (yang tentu saja tanpa bayaran). Aku harus selalu mengingatkannya untuk mulai lebih banyak istirahat. Maka, ketika kemudian aku menjalani pekerjaan part time kasar pula dalam masa tugas belajarku di negeri kangguru ini, aku makin menghormatinya dan mencintainya. Karena aku sekarang bisa merasakan dengan sesungguhnya, seberat apa pekerjaan sehari-hari yang dijalani Ibuku. Bahkan tentu saja, “pekerjaan beratku” tetap lebih ringan, karena aku bekerja hanya dalam hitungan jam per hari (dan kadang per minggu) sementara Ibuku dalam sehari bekerja berat sejak baru bangun hingga waktunya tidur. Pekerjaanku juga terhitung lebih ringan karena beratnya pekerjaan terkompensasi oleh gaji yang tinggi, sedang pekerjaan ibu berpenghasilan rendah, bahkan lebih banyak yang tak berbayar. Dan cinta serta hormat itu makin menjula, ketika kudengar respon ibuku saat aku bercerita padanya tentang pekerjaan-pekerjaan sampinganku. “Oalah Nduk, lha kok ngrekoso men gaweanmu,” itu komentarnya sambil menangis saat dulu aku bercerita mulai bekerja sebagai PRT cabutan ( bahasa kerennya disini domestic cleaner) di rumah seorang bule. Ketika kubilang pekerjaannya sama dengan pekerjaan rumah sehari2 yang selama ini kujalani ketika di Indonesia (ketika masih bersamanya maupun saat aku sudah berumah tangga dan selama itu pula belum pernah pake pembantu), ia tetap berkeras bahwa itu pekerjaan kasar dan akan membuatku kecapekan. Ketika aku berargumen bahwa apa yang kukerjakan tidak lebih keras dari pekerjaan ibu sehari-hari, dia bilang ia sudah terbiasa dengan pekerjaan keras, sementara aku tidak, kecuali pekerjaan rumah tangga. “Nduk, mbok wis leren. Mengko malah loro kabeh awakmu,” itu komentarnya -tetap sambil menangis, bahkan setelah setahun kemudian- ketika beberapa waktu lalu aku bercerita lenganku sering kemeng berhari-hari karena kecapekan cuci piring. Ya, pekerjaan terakhirku saat ini adalah sebagai tukang cuci piring di sebuah perusahaan catering. “Mboten nopo-nopo Bu, dangu-dangu insyaAllah terbiasa,” jawabku. Ibu tetap berkeras bahwa, “ Yen kesel wis ora usah nyambut gawe. Sing penting sinaumu! Aja nganti kecer.” Ketika kubilang kali ini aku harus tetap bekerja untuk membayar day care anakku dan membantu suami menabung karena kami sebentar lagi pulang dan banyak biaya menjelang pulang yang harus kami keluarkan, Ibu bilang,” Wis ora usah ngoyo. Insya Allah rejeki wis diatur karo sing kuwoso.” Duhai Ibu, kau tidak pernah mengeluh atas beban berat yang kau jalani sepanjang hidupmu, bahkan lebih dari itu, kau tidak rela anakmu menanggung beban yang sama beratnya, kau ingin menanggungkan pula, kau menangis untukku. Maka, hanya pintaku pada Sang Kuasa, agar mengganti semua kehidupan prihatinmu dengan kebahagiaan surga. Pinta yang sama, untuk seluruh perempuan perkasa sepertimu, di Indonesia dan seluruh belahan dunia. Banyak arti dari kata ini yang saya temukan di american heritage dictionary. Tapi yang ingin saya pilih adalah determination dalam arti : a fixed intention or resolution. Tekat yang kuat. ***** Bekerja part time maupun full time adalah sesuatu yang wajar bagi mahasiswa Indonesia (dan spousenya) di luar negeri. Dan menjalani berbagai jenis pekerjaan 'kasar' pun adalah sesuatu yang wajar pula. Sekalipun di Indo adalah pejabat, disini jadi pegawai pabrik, jaga toko, kuli angkut, cleaner, kitchen hand, dish-ier (hehehe, apa istilah untuk orang yang mengoperasikan dishwasher?) normal saja. Sekalipun di indo punya pembantu, disini jadi pembantu, ya mau saja. Gaji yang lumayan untuk pekerjaan yang termasuk sektor 'jasa' ini, ditambah dengan nilai kurs yang juga lumayan, membuat pekerjaan yang mungkin diemohi jika yang bersangkutan di Indonesia ini barangkali menjadi daya tariknya. Meskipun demikian, tetap dalam memilih pekerjaan, biasanya ada konvensi maupun anjuran untuk disesuaikan dengan level beratnya pekerjaan dimaksud, terutama dikaitkan dengan gender. Misalnya neh, kalau disini, ladies sebaiknya kerja sebagai domestic cleaner saja. Selain memang kaum wanita lebih disukai karena karakter 'perhatian pada detail' yang dimilikinya, pekerjaan domestic cleaning dianggap relatif ringan (tapi omong-omong, siapa ya yang berpandangan pekerjaan domestic cleaning ringan? mostly para pria ato wanita? Ayo ibu-ibu yang biasa mengerjakan pekerjaan rumah tangga sendiri: domestic cleaning ringan tidak?) Sedangkan untuk pekerjaan yang lebih kasar seperti cleaner di pabrik dan tempat-tempat sangat kotor lainnya yang membutuhkan tenaga besar, sebaiknya kaum laki-laki saja, para perempuan tidak usah. Ini hanya 'konvensi' di kalangan orang kita lho. Klo di kalangan orang aussy sini sih, yang mengusung jargon equal opportunity, mo laki mo cewek, boleh mengerjakan pekerjaan apa saja asal mampu. Cuma ya konsekuensinya pun sama. Tidak ada dispensasi untuk pekerja perempuan misalnya dapat beban lebih ringan. No way. Nah, selama ini ada satu pekerjaan yang turun temurun dikerjakan dan diwariskan oleh para laki-laki indonesia disini, yaitu dish-ier di restoran india. Semua yang pernah bekerja disini (termasuk suami saya) menyatakan 'sangat berat' karena dishwashingnya tidak pake mesin alias harus nyuci manual, waktu kerjanya 5-6jam tanpa henti, tempatnya sempit sehingga butuh strategi, peralatan masak maupun piring yang dicuci ukurannya jumbo dan bobotnya lebih dari lumayan, plus, bau bumbu masakan india yang aduhai. thus, banyak pegawai (laki-laki indonesia) yang bertumbangan/mundur bahkan di hari/minggu2 pertamanya kerja. Dan tentu saja, selama ini, kaum perempuan tidak pernah diberi kesempatan untuk mencoba. "Wong kami saja yang laki-laki banyak yang tidak sanggup, gimana kaum perempuan? Lagian, (kayaknya) sang majikan maunya pegawai laki-laki deh," mungkin begitu alasan kaum bapak itu. kami para perempuan pun juga tidak ngotot mau mencoba pekerjaan itu. Sampai suatu hari, ada mahasiswi baru yang bahkan di hari-hari pertama kedatangannya disini sudah sibuk nyari kerja. (saya dulu, 1-2bulan pertama tinggal di brisbane, sibuk nyari akomodasi dan berusaha settle in). ketika ada lowongan di restoran india tersebut yang butuh diisi segera dan oleh suami saya 'dilempar' ke mahasiswa temen seangkatannya si 'mahasiswi' ini, si mahasiswi menyatakan keinginannya untuk mencoba dan mempertanyakan seberapa berat sesungguhnya pekerjaan itu. Dia bilang, berat atau tidak itu sesungguhnya ada pada level 'mental' dan 'hati'. Sesuatu yang physically berat, akan sanggup dijalani oleh seseorang yang memiliki determination tinggi untuk mengerjakannya. Dan benar saja, si mbak berbadan tipis ini, ketika temannya melepas pekerjaan tersebut 1 bulan kemudian karena alasan bentrok dengan jadwal kuliah, dengan gagah berani mengambil alih pekerjaan tersebut dan so far sih ok-ok saja. Dia membuktikan pendapatnya bahwa 'determination' bisa mengalahkan beratnya beratnya sebuah pekerjaan. *** Terinspirasi oleh si Mbak tadi, saya yang di dua semester yang telah lewat tidak bekerja karena alasan struggle dengan studi, pada semester terakhir ini pun nekat mengambil pekerjaan yang juga selama ini turun temurun hanya dikerjakan oleh para lelaki indonesia yaitu kitchen hand/dish-ier di sebuah perusahaan catering. Pertama kali kerja/training, saya dikomentari oleh trainernya (yang juga temen cowok dari indo): "kenapa enggak bapaknya (suami) aja?". setelah beberapa shif kerja, -meskipun harus saya akui beraaat dan bikin badan pegel semua-, saya toh juga baik-baik saja. Kuncinya, memang pada determination tadi. Ada alasan khusus yang sanggup membuat saya begitu terdeterminasi untuk bekerja di akhir semester ini, meskipun jenis pekerjaan yang ada/lowong/saya dapatkan adalah pekerjaan yang selama ini tidak direkomendasikan oleh para kaum laki-laki disini. *** Sekarang saya malah jadi merenung. Jika saya bisa begitu terdeterminasi untuk sanggup mengerjakan 'pekerjaan berat' itu, mestinya saya juga bisa memiliki determinasi yang sama besarnya untuk 'lulus kuliah', untuk 'bisa mendidik dan membesarkan anak', untuk 'menjadi istri yang baik', untuk 'menjadi muslimah yang baik' dst. jika kemudian saat ini kenyataannya saya merasa tidak sanggup, maka saya harus mencari alasan/motivasi/apapun yang akan memberikan saya determinasi yang sama/lebih kuat lagi untuk menjalani dan mengerjakan semua itu.... Fatih sudah mulai sekolah full time. Dan tentu saja, ia harus pakai nappy jika di sekolah. Untuk menjaga agar ruam di nappy area Fatih tidak parah kembali, Fatih dibiarkan tetap tanpa nappy jika sedang dirumah. Ibu bermaksud meneruskan toilet training Fatih. Berbagai cara dicoba ibu. Ibu mengganti istilah pi dengan cur, maksudnya saat fatih pipis akan ada air mengalir yang dibarengi dengan seruan “cuuur”. Kesukaan Fatih bermain ‘flush’ toilet juga ibu manfaatkan. “Fatih mau pencet (flush) ya? Cuur dulu yuk. Abis cur nanti baru pencet. Kalau belum cur nggak bisa pencet.” Sekali dua tiga kali usaha ini tidak membuahkan hasil. Fatih tetap lebih tertarik pencetnya daripada curnya. Bahkan kadang sangat sulit menurunkan Fatih dari atas kloset jika ia belum me’flush’. Dan itu, tanpa ia pipis. Tetap saja, sering terjadi, Fatih memberontak jika disuruh cur, kadang menangis tapi begitu keluar kamar mandi dan ia dalam keadaan bebas (main) Fatih langsung ngompol. Seperti yang pernah disarankan media massa, Fatih mungkin perlu ditunjukkan cara cur dan pencet yang benar. Maka lain kali ketika bapak mau pipis, Fatih diajak. Dia melihat bagaimana Bapak pipis dan mem-flush- closet sesudahnya. “Fatih mau pencet juga? Yuk cur dulu seperti Bapak. Abis itu nanti boleh pencet.” Selain itu, Fatih juga terus menerus dicekoki bahwa pipis atau cur, tempatnya di kamar mandi. Setiap kali habis ngompol, Ibu akan bertanya,” kalo cur dimana De?” Doktrinnya tentu saja ,” di kamar mandi”. Jawaban Fatih bermacam-macam. ,” Disana (sambil nunjuk kamar mandi”, Di kamar (yeee, maunya), bahkan kadang ,”di dapur” (aduh gemesnya kalau sudah begini). Akhirnya setelah berbagai cara dan sekian lama, Fatih mau juga disuruh cur jika di bawa ke kamar mandi. Hadiahnya, ia boleh ‘pencet’ tombol ‘flush’. Satu langkah maju, meskipun lambat. Supaya tidak kebobolan, waktu ke kamar mandi untuk Fatih dipersering, setiap 30 menit hingga 1 jam sekali. Biarin pipisnya Cuma dikit, yang penting Fatih sudah tahu bagiamana caranya memerintahkan organ pipisnya untuk mengeluarkan urinnya jika ia mau dan ia semakin terbiasa dengan “pipis itu di kamar mandi”. Meskipun ibu harus melihat mood Fatih. Jika ia sedang bad mood, jangan harap ia mau cur, pun jangan sampai memaksanya. Sekali dua ia masih bobol, apalagi kalau habis mimic banyak atau minum lewat botol, tapi secara umum ia sudah bisa dpipisin ke kamar mandi. Ibu hanya harus terus bersabar sampai ia mau bilang sendiri minta pipis. Masalah selesai? Belum! Bagiamana dengan toilet training ketika fatih tidur untuk mencegah bedwetting? Seperti sudah disebut sekilas dalam toilet training edisi sebelumnya, Fatih sekarang tidur di matrass single tersendiri yang diperolah dari seorang teman. Dengan demikian, jika ia ngompol tidak akan membasahi matrass punya unit. Dua malam pertama, Faih hanya pipis 2x dalam semalam, itupun kasur sempat diselamatkan karena saat celana fatih mulai basah (mulai pipis) dan fatih gelisah, Ibu terbangun (atau tepatnya, Ibu memang hampir tidak tidur demi menunggu Fatih kapan pipis) dan langsung mengangkat fatih ke kamar mandi. Namun, Fatih yang terganggu tidurnya memberontak, tidak mau disuruh pipis , meskipun toh, akhirnya pipisnya keluar sendiri. Ibu piker, oh Cuma dua kali pipis semalam, dan meskipun rewel dan ibu harus mengepel kamar mandi, setidaknya kasurnya tidak basah. Beberapa hari berikutnya, fatih ngompol tanpa ibu terbangun. Dan fatih sendiri pun tidak terbangun bahkan ketika tubuhnya basah kuyup oleh air kencing. Ketika Ibu terbangun, Fatih sudah basah kuyup dan hanya bisa mengganti baju serta sheetnya. Malam-malam berikutnya, Ibu mulai aware, bahwa Fatih jika mau ngompol gelisah. Maka jika saat Fatih gelisah ibu terbangun, Ibu akan langsung menggendong Fatih ke kamar mandi dan mentaturnya (fatih dalam kondisi merem dan posisi setengah dipeluk, dicopot celananya dan diminta pipis). Sayangnya, usaha ini pun kontra produktif. Alih alih mau pipis, fatih malam ngambeg, marah dan kadang tantrum. “Bobo…bobo…mamau cuur” teriaknya berulang-ulang sambil mmberontak. Kadang ibu bertahan untuk tidak membawanya ke kamar kembali sebelum ia pipis, tapi Fatih tetap bertahan tidak mau pipis. Namun begitu dibawa ke kamar lagi dan ditaruh kembali di tempat tidur, langsung banjir. Repotnya lagi, jika akan ngompol, Fatih suka mencari posisi. Yaitu tengkurap dengan setengah badan atas di atas kasur dan setengah badan bawah menggantung dan kaki menjejak lantai. Dengan posisi ini, ia bebas pipis tanpa halangan. Akibatnya, kasur unit memang selamat, tapi fatih pipis di karpet yang lebih susah lagi ngebersihinnya. JIka sudah begini, Ibu membiarkan fatih ngompol, asal di kasur, bukan minggir ke karpet. Sayangnya Fatih juga tidak mau diarahkan seperti ini. Meskipun berkali-kali dipindahkan ke tengah kasur, ia akan tetap minggir untuk mencari posisi wuenak buat ngompol. Dan itu sudah pasti dilakukannya sambil marah dan menangis, karena terganggu keingininanya untuk pipis di tempat yang enak. Berhari-hari, malam-malam kami berisi pergulatan yang berakhir dengan tangisan. Ya Allah, kenapa urusan pipis saja harus membuat kami berdua stress begini? Di hari yang lain, ketika fatih tidak banyak minum dan sebelum tidur sudah disuruh pipis berkali-kali, fatih tidak ngompol saat tidur dan tidur nyenyak sampai pagi. Hal ini sempat berlangsung dua hari berturut-turut dan ibu sudah senang menemukan cara untuk mencegah ia dari ngompol. Namun, cara ini tidak bisa dilaksanakan pada hari-hari berikutnya. Udara yang gerah membuat ibu tidak tega ketika fatih insisting minta mimik (susu botol dan air putih botol seperti biasa, kira2 total 300ml) sebelum bobo. Alhasil, bahkan sebelum tengah malam, Fatih sudah ngompol 3x dengan kondisi selalu basah kuyup seluruh tubuh. Hari berganti, tanpa banyak kemajuan berarti. Fatih sudah dua minggu sekolah full time dari senin hingga jumat, sejak jam 8am hingga 5pm setiap hari. Hari terakhir minggu kedua Fatih sekolah, Fatih pulang dengan kondisi hidung meler. Ah, malam-malam itu akan datang kembali. Malam-malam begadang bagi kami berdua karena hidung fatih mampet, batuk ataupun sekedar tidur Fatih gelisah karena napas berat hingga tiba-tiba terbangun karena sesak napas. Pilek bagi Fatih adalah alarm bagi ibu akan kambuhnya asma Fatih. Ibu pun memutuskan mengenakan nappy kembali pada fatih saat ia tidur dan memindahkan tidurnya ke tempat tidur utama lagi. Kerewelan fatih saat sakit sudah lebih dari cukup, tak perlu ditambah kerewelan baru karena harus berjibaku dengan ngompol. Fatih butuh istirahat lebih banyak agar lebih cepat sehat. Meskipun itu berarti, rash di nappy area Fatih akan muncul kembali. Hari ini, seminggu menjelang ulang tahun Fatih yang kedua, belum banyak kemajuan berarti pada toilet training fatih. Ia masih tetap ngompol jika Ibu lupa/telat membawanya ke kamar mandi. Ibu sudah mulai membiarkannya tanpa nappy kembali ketika tidur karena pilek fatih sudah sembuh dan rash di nappy area Fatih mulai meluas dan gatal. Ibu masih mencoba membawanya ke kamar mandi saat ia gelisah mau pipis dalam tidurnya. Belum teruji, tapi malam ini ia sudah tidak marah ketika dibawa ke kamar mandi di tengah tengah ngompolnya. Ia bahkan bisa bergumam, “ udah…udah cuur,” dalam tidurnya meski tidak ada lagi yang keluar saat sampe di kamar mandi. Dan ketika dikembalikan lagi ke tempat tidur dan diganti celananya, tak sampai setengah jam kemudian ia sudah basah kuyup kembali saat ibu menulis ini. Tapi Alhamdulillah, malam ini tak perlu kami lewati dengan pergulatan dan tangisan. Fatih tidur nyenyak dalam kuyupnya, tak terganggu ketika diganti bajunya dan Alhamdulillah, ia bernapas rileks dan teratur, tanpa batuk, tanpa terbangun tiba-tiba. Seminggu lagi summer berakhir. Fall akan datang dan winter segera menyusul. Jika belum ada kemjuan dalam toilet training Fatih ketika bobo, Ibu berencana mengenakan nappy kembali pada Fatih saat temperature ruangan mulai turun. Tentu tidaklah menyenangkan jika di tengah dinginnya udara, Fatih harus berbasah-basah tiap malam. Semoga saat suhu udara sudah lebih rendah, nappy rash Fatih pun hilang dengan sendirinya. Catatan Ibu, Friday 20th, 2.40am Saat seluruh badan pegal2 karena 3 hari berturut2 kerja cleaning. Toilet Training Fatih Usia 18 bulan Beberapa artikel dan sharing di milis menyatakan bahwa Fatih sudah saatnya ditoilet training. Ibu membeli 3 celana toilet training untuk Fatih. Jika sedang tidak kemana-mana dan sedang tidak tidur, Fatih tidak dikenakan nappy, tetapi dikenakan celana toilet training itu sebagai undies kemudian di luarnya dikenakan celana sehari-hari. Dengan celana itu, Fatih dikenalkan kepada rasa basah jika ngompol, namun air pipisnya tidak terlalu kemana-mana. Ketika ngompol, Fatih menangis. Ibu bilang,” Ooh, basah. Fatih pi ya? Yuk kita ganti celana,” Sambil mengganti celana Fatih, Ibu berkata,” kalau mau pi bilang ibu ya, nanti kita pi ke kamar mandi.” Seperti yang disarankan oleh banyak artikel juga, Fatih Ibu bawa ke kamar mandi untuk pi setiap 1-2jam sekali. Namun hingga lebih dari dua minggu toilet training dijalankan, rupanya Fatih masih belum mengerti ketika disuruh pipis. Setiap dibawa ke kamar mandi, Fatih malah main-main, atau jika dia sedang tidak mau ke kamar mandi, maka dia akan ngambeg. Sebuah artikel lain menjelaskan bahwa toilet training sebaiknya dilakukan ketika anak sudah siap dan mengerti perintah pipis. Oh, ok. Mungkin memang belum waktunya, meskipun sebagian kawan mengatakan sudah bisa, tapi banyak juga yang bilang belum waktunya. Lagipula ibu mulai sibuk dan fatih juga jarang dirumah (lebih sering di day care atau dibawa jalan Bapaknya). Toilet training pun dihentikan. Usia 21m1w Christmas- new year eve holiday. Ibu Libur, faith libur. Rasanya sudah tiba masanya program toilet training dijalankan lagi. Dan semoga saat ini Fatih sudah siap. Sama seperti sebelumnya, Fatih tidak dikenakan nappy jika sedang di rumah saja dan dalam kondisi bangun. Ketika pipis, Fatih sadar dengan rasa basah. Ibu menyebutnya pipis atau pendeknya pi, dan memberitahu Fatih bahwa tempat pi adalah di kamar mandi dan jika mau pi Fatih diminta bilang dulu ke Ibu . Selain itu Fatih pun dibawa Ibu ke kamar mandi tiap 1.5-2jam sekali ke kamar mandi dan diminta pi. Beberapa hari selanjutnya, Fatih sudah bisa bilang,”basah” dan “pi” jika terlanjur pipis (dan hampir selalu terlanjur pipis). Ibu selalu memberitahu ulang Fatih kalau pi di kamar mandi dan bilang dulu sama ibu sebelum pi, bukan sesudah pi. Ibu berharap, seiring dengan berjalannya waktu Fatih akan bilang minta pi sebelum keluar, bukan setelah basah kuyup. Namun demikian, program membawa Fatih ke kamar mandi tiap beberapa waktu sekali hampir tidak ada kemajuan. Fatih tidak mau pi ketika diminta pi. Dia lebih sering ngambek atau jika tidak ngambek dia hanya mau mainan floss dan memanjat closet-nya saja, tapi tidak mau pi. Apakah karena memang belum saatnya pi? Sepertinya tidak. Karena begitu dibawa keluar dari kamar mandi, seringnya 1-10 kemudian Fatih akan ngompol. Sepertinya Fatih belum sadar kapan saat kandung kemihnya penuh dan belum mengerti caranya memerintahkan organ pipisnya untuk mengeluarkan urin dari kantung kemih, bahkan ketika kantung kemih itu sudah penuh. Waktu berlalu, holidays hampir habis. Ibu kembali berpikir, mungkin memang belum waktunya Fatih ditoilet training. Fatih 22m2w. Fatih sudah mulai masuk sekolah lagi, tap masih 2x seminggu. Cuaca makin panas, udara makin gerah. Fatih sering rewel dan gerah di malam hari. Kulitnya jadi sering gatal, kata orang sih karena serangga musim summer yang tak terlihat. Selain itu sebagain nappy areanya memerah. Seperti biasa, Ibu mengoles nappy area yang memerah dengan rash cream. Biasanya dalam 1-2 hari akan kembali sembuh, namun kali ini tidak. Bahkan tampaknya rash itu menjadi gatal dan sering digaruk Fatih. Makin hari, nappy rashnya melebar dan disertai dengan bintik-bintik . Fatih pun makin rewel jika udara gerah. Ibu membawa Fatih ke dokter. Kata dokter, rash di nappy area Fatih sudah terinfeksi jamur, jadi harus disalep. Dengan obat anti jamur. Beberapa teman juga mengusulkan agar Fatih lebih sering tidak dikenakan nappy jika di rumah. Apoteker tempat ibu membeli salep untuk Fatih juga mengusulkan hal yang sama: Fatih perlu ditoilet training agar tidak perlu lagi mengenakan nappy karena kulitnya yang sensitive terhadap nappy. (Pada dasarnya kulit Fatih memang sensitive, ketika winter, kulit Fatih juga memerah, kemudian pecah-pecah dan gatal sehingga Fatih harus mandi dengan sabun khusus dan mengenakan cream khusus dalam kesehariannya. Rupanya, saat summer pun kulit Fatih juga perlu ditangani secara khusus). Oke, Ibu pun memutuskan toilet training dimulai kembali. Kali ini full toilet training. Selama lima hari tinggal dirumah (kebetulan ada long weekend, sehingga absensi Fatih di day care tidak terpengaruh banyak) Fatih tidak dikenakan nappy, day n night. Ibu juga mencarikan kasur single tersendiri untuk Fatih supaya jika Fatih ngompol saat bobo tidak membasahi kasur punya unit. Lima hari berlalu. Rash di kulit Fatih sudah relative berkurang. Tapi toilet trainingnya hampir tidak mengalami kemajuan berarti. Alih-alih menjadi lebih aware atau ngomong jika ngompol, Fatih malah menjadi seperti terbiasa dengan basah ompol. Jika sebelumnya dia rewel dan ngomong ke ibu jika terlanjur pipis, kini ia cuek saja saat celananya basah. Sementara itu, ia tetap tidak mau disuruh pipis jika dibawa ke kamar mandi dalam rentang 1-2 jam sekali, dan tetap sering pipis di celana sesaat setelah keluar dari kamar mandi. Sesulit inikah toilet training? (to be continued) Dee the CEO Mba Nanik sang manager Mba Vita bu Kepala. Uni Otri yang mungkin tengah melanglang ke pedalaman papua Apa kabarmu saudari-saudariku?
Sudah lebih dari 3 tahun berlalu sejak buku bersama kita "Catatan Wanita Lajang" terbit. Dan itu berarti, sudah lebih dari 3 tahun pula, aku meninggalkan dunia kita bersama, dunia lajang penuh arti. Dunia lajang penuh cita cita yang bergelora untuk membangun dunia.
Tentulah kalian tengah berjibaku dengan waktu, membangun diri, menoreh makna pada setiap detik yang berlalu. Menjadi lebih cantik dari hari ke hari serta selalu memberikan kontribusi. Bukankah itu philosofi kita dahulu? Kuharap, memang begitu adamu. Jangan bosan. Jangan patah, apalagi menyerah. Sungguh masa ini adalah masa mu berkarya, pun pula menabung pahala.
Kau tahu sahabatku? Hari ini, kutelusuri jalan-jalan itu. Pagi ini, kubaca ulang prasasti-prasasti itu.rasanya masa itu sudah sekian lama berlalu dari hidupku. Dan semua yang pernah terjadi -dan telah kutulis dalam sebuah prasasti- terasa sangat basi. Aku lupa, aku hilang, aku asing. Aku tenggelam dalam 'masa baru'ku. Dan aku menjadi tahu, betapa manusia sangat mudah lupa atas apa yang pernah diucap dan dijalaninya. Maka benarlah jika Allah mengingatkan makhlukNya, kita manusia, atas apa yang pernah kita janjikan padaNya di masa sebelum kita terlahir.
Sungguh, pada setiap masa, ada ujiannya. Dan setiap orang akan memperoleh nilai sesuai dengan usaha yang dijalankannya:)
salam rinduku untukmu, az- yang 'kalah' di tahun tahun pertama 'masa barunya'. tapi perjalanan masih panjang bukan? Aku akan bangkit, berjalan lagi dan menjadi cantik kembali, insya Allah:)
jika mama sering menjadi kata pertama, ibu adalah kata nomor kesekian yang bisa diucapkan seorang bayi. dan bagi Fatih, kata Bapak adalah satu dari sedikit kata pertama yang diucapkannya dengan jelas sejak ia belajar bicara. Maka, dulu, dikit..dikit dia akan berkata "bapak". Bapaknya keluar rumah, bapaknya datang, bapaknya ke kamar mandi, dia akan bilang bapak. mau bobo, bangun bobo maka dia akan mencari bapak.
Tapi hari-hari terakhir ini, dia menyebut kata ibu jauh lebih banyak daripada Bapak. lagi baca buku, sambil nunjukin gambar, dia akan bilang: ibuuu, momo. Ibuuu giraffe, ibuuu crocodile. Ibuuu...bla...bla..bla. Bangun tidur: ibuuuu. Mo pipis (seringnya sih dah pipis duluan): ibuuu. Mau dimandiin bapak: ibuuuuuu. Liat ibunya masuk kamar mandi: ibuuuu buka, ibuuu buka (sambil gedor-gedor dan nangis, kayak ditinggal kemana aja). Pokoknya nyaris semua kalimat dimulai dengan "Ibuuu....." Dan rasanya panggilan itu menyenangkan setelah sebelumnya "Bapak" selalu yang disebut2, hehehehe.
Memang kemampuan bahasanya tidak dapat dibilang bagus untuk anak yang akan ultah kedua maret nanti, tapi perkembangannya cukup pesat sebulan terakhir. Dia menirukan apa saja yang diucapkan ibu dan bapaknya. Dan yang paling menggembirakan, dia mulai banyak ngomong di sekolah, setelah sebelumnya (sejak masuk child care hingga break cristmas n new year eve) dia hanya diam saja dan bermain serta mengamati orang di sekolahnya. Alhamdulillah. Meskipun, jika sama orang asing, dia tetap belum mau bicara.
Akhir-akhir ini Fatih suka sekali dengan kata maaf, meskipun dengan pengucapan yang belum sempurna, yaitu terdengar sebagai maak. Pengucapan maak sendiri digunakan untuk maaf dan masak, namun karena artinya jauh berbeda, relatif gamang diartikan kapan Fatih memaksudkan maak sebagai masak dan maak sebagai maaf. Yang agak menakjubkan adalah bagaimana Fatih memaknai maak sebagai maaf. Pengalaman pertama yang saya ingat Fatih menggunakan kata maaf adalah ketika saya memandikannya sekitar seminggu lalu. Fatih terbiasa bermain sambil mandi, salah satunya dengan gayung. Saat itu Fatih ingin gayung yang sedang saya gunakan untuk mengguyur tubuhnya. Maka terjadilah perebutan gayung disertai teriakan Fatih: Maak, maak, maak....(sambil berusaha mengambil gayung dari tangan saya). Awalnya saya tidak ngeh, tapi beberapa detik kemudian saya sadar, karena sebelumnya jika saya ingin mengambil sesuatu dari penguasaan Fatih baik karena saya perlu or karena berbahaya untuk Fatih saya sering bilang: maaf, ibu pinjem dulu ya, maaf ya, maaf. Ternyata, penggunaan kata maaf ini pun berkembang. Misalnya, Bapak ibu sedang duduk di sofa, dan fatih ingin bermain di sepanjang sofa. Maka ia akan menggusur (dengan mendorong) bapak ibu sambil berkata: maak, maak.... Ketika dia akan lewat dan terhalangi, maka dia pun akan bilang: maak. Dalam semua penggunaan maaf di atas, bisa diartikan Fatih memaknainya sebagai permisi/excuse me. Yang paling baru adalah ketika tadi sore Fatih ke dapur menemui ibu minta minum. Tanpa sengaja, Ibu menabrak Fatih ketika bergerak mundur. Fatih spontan berkata: maak. Ibu tertawa mendengarnya (sambil mengulangi kata maaf, karena yang menabrak Ibu, bukan Fatih). Seingat ibu sih, Ibu tidak mengajarkan kata maaf dalam kondisi ini, secara ibu lebih sering dan lebih spontan menggunakan sorry, yang merupakan bahasa sehari-hari disini ( selengkapnya baca yang ini). Bahkan, kata sorry bukan hanya ibu ucapkan ketika berkomunikasi dengan native atau non indonesia lainnya, bahkan kepada Bapak pun ibu kadang bilang,"sorry" untuk situasi sejenis. Jadi darimana Fatih mendapat kata maaf dalam arti sorry? Mungkin karena beberapa waktu lalu, ketika bermain dengan temannya dan Fatih tak sengaja melempar temannya dengan mainan, Ibu meminta Fatih minta maaf pada temannya. Saat itu Ibu membimbing Fatih mendekati temannya dan mengulurkan tangan Fatih untuk salaman sambil bilang: Maaf ya. Hehehe, nyambung gak ya? Wallahu a'lam  | A Ja Bu | Dec 16, '08 11:21 PM for everyone |
Fatih: Ibu....heeeh (menatap ibu) Ibu: Yes, darling? Fatih: Baa baa... Ibu: Baa baa blacksheep have you any.... (nyanyian putus, mulut ibu dibekap Fatih) What? Fatih: ...kati kati... Ibu: Humpty dumpty sat on the... (mulut ibu dibekap Fatih lagi) Fatih: kati..kati..kati (kedua telapak tangan menggenggam membuka) Ibu paham: Twinkle twinkle little star...how i wonder what you are (mulut dibekap lagi, klo ini bukan salah, tapi Fatih berubah pikiran, minta lagu lain) Fatih: gawa gawa gwa (tangannya bergerak maju mundur) Ibu have no idea, coba aja nyanyi: head, shoulder knees and toes....knee (dibekap lagi) old mc donald has a farm eio ieo... (bekap lg)...incy wincy spider...(bekap lagi) the wheel on the bus goes round and round...(bekap lagi)...cicak cicak didinding... (bekap lagi), kulihat awaan....(bekap lagi) Ibu capek: yang mana dek? (sambil nahan ketawa, beneran, ibu ga tau fatih mau lagu apa) Fatih berusaha keras: gawa gawa gawa... Ibu tetap tidak tau, mungkin Fatih baru saja belajar lagu baru dari sekolah. akhirnya ibu mengalihkan perhatian. ****
Fatih, di usianya yang ke 21 bulan belum bisa dikatakan sudah bisa ngomong. Memang kosa katanya sudah ada, bahkan mulai banyak, namun sebagian besar masih belum jelas. Itu pun, ngomongnya masih satu kata-satu kata, belum kalimat. Dibandingkan adik sepupunya (anak adik saya) yang usianya hanya beda 14 hari, Fatih ketinggalan jauh. Farisa, si sepupu sudah bisa diajak ngobrol dan pintar bernyanyi. Sementara, fatih yang juga suka bernyanyi (karena ibunya suka bernyanyi)
Kata orang, anak laki-laki memang lebih lambat bisa ngomongnya dibanding anak perempuan. Terlebih lagi, Fatih belajar berkomunikasi dengan tiga bahasa sekaligus (Jawa, Indonesia dan English), sehingga menambah kompleksitas pelajaran berbahasanya. Tambahan pula, lingkungan pergaulan dan komunikasi Fatih terbatas hanya dengan orang tuanya dan teman-teman di day care. Dan tentu saja sebab dari dalam diri Fatih sendiri, kematangan organ dan 'software' bahasanya.
Namun demikian, tetap ada saja kemampuan bahasa dan ingatan Fatih yang suka bikin ibu takjub.
1. menjelang tidur, ibu dan bapak sering mengajak fatih membaca fatihah dan surat-surat pendek, kemudian diakhiri baca doa tidur. suatu saat ibu lupa (bapak sedang tidak ada),... tiba-tiba..."Awa awa..awa..amuuk, bobo". Aha, Fatih berdoa sendiri, mengingatkan ibu yang lupa ini: bismikallaahumma ahya wa bismika amuut, ....dah, bobo. 2. Setiap berangkat sekolah dan atau masuk rumah, Ibu dan bapak saling mengucap salam, namun nyaris tidak pernah meminta Fatih melakukannya. Fatih lebih sering diminta salaman saja, cipika-cipiki dan say bye bye. Beberapa hari yang lalu, sepulang sekolah Fatih masuk rumah lebih dulu dibanding Ibu. Ibu masih sibuk dengan barang-barang ketika Fatih berteriak nyaring..."Ala acum.....ala acum". Ibu mendongak,"apa dek?" "Ala acum" ulang Fatih. Ooh, salaamu'alaikum, Bapak," Ibu baru sadar kalau Fatih mengucap salam kepada Bapaknya yang berada di dalam kamar. Kemarin, ketika dibawa bertandang ke rumah teman, Fatih mengucapkan hal yang sama, kali ini menjelang pulang. Fatih sudah siap di atas strollernya, namun ibu belum juga beranjak dari halaman, masih melanjutkan obrolan dengan tuan rumah. Di tengah obrolan, terdengar Fatih menyela,"ala acum". wekekeke, rupanya dia minta pulang dan to the point bilang salaamu'alaikum. **** Dua hari lalu. Seperti biasa, sehabis mandi, acara mengenakan nappy dan baju Fatih sering harus dilalui dengan kejar-kejaran dan bujuk-bujukan. Tapi kali ini Fatih agak lebih sulit dibanding biasanya. Bapak fatih yang sedang di kamar mandi bilang," Paksa aja, dek!" Ibu yang sedang menahan hati untuk tidak memaksa seperti mendapat pembenaran untuk memaksa. Salahnya, Ibu memaksa ketika hati sudah terlanjur kesal, sehingga ada muatan emosi yang terbawa (biasanya ibu bisa memaksa/bersikap tegas tanpa emosi). Dan rupanya, muatan emosi ini dirasakan Fatih. Fatih mau dipakein nappy sambil menangis sedih sekali. berkali kali dia bilang," aja bu....aja bu....ajabu..." Ibu ngga ngerti apa maksud Fatih, tapi Ibu tahu bahwa Fatih sedih karena dipaksa. Bapak yang baru keluar dari kamar mandi berkata (mengikuti fatih),"...ojo bu...ojo bu...ojo bu (red:jangan bu), fatih ngga mau ya? ngga papa, ntar klo ga pake nappy ngompol". Ibu yang merasa bersalah tidak menanggapi, hanya minta maaf dan memeluk fatih setelah fatih selesai mengenakan nappy dan baju. **** Hari ini ibu keinget dua lagu yang kemarin2 sering lupa. yaitu five little duck dan i love you (barney)
Ibu bernyanyi: I love u, u love me, we're happy family.... Fatih dengan cepat menyambung (mungkin sering dinyanyikan dan diputar di sekolah): Aja bu, ajabu..... Ibu berhenti sejenak, mengingat ingat kata ajabu, dan bernyanyi lagi: I love u, u love me... Fatih kembali nyambung: ajabu...ajabu...
duh, nak. jadi kemarin itu, ketika ibu memaksamu, ketika kamu menangis sedih sekali, kamu bilang I love u? atau kamu meminta ibu bilang I love u? Ibu tidak tahu yang mana, tapi yang pasti ada kaitannya dengan i love u. Karena selama ini, jika fatih 'menyakiti' Ibu (memukul, menampar, menggigit), Ibu suka bilang: fatih cinta ibu tidak? sini (sambil mengambil tangan Fatih dan menaruhnya di pipi ibu), Ibu cinta... Fatih sayang. I love u...." Notes: Kata pengantar ini saya repost atas seijin mba sandrina dan diambil dari facebook beliau. potongan dari kata pengantar ini yang berisi tentang pengalaman Sandrina dilarang siaran di metro, beredar luas di berbagai milis. Karena itu, terlampir saya post versi lengkapnya:) =========================== Kemahaarifan Allah dan Kebajikan Sehari-hari Oleh Sandrina Malakiano Fatah
[TULISAN INI ADALAH KATA PENGANTAR UNTUK BUKU AZIMAH RAHAYU, “KARENA AKU BEGITU CANTIK: CATATAN HARIAN SEORANG MUSLIMAH” YANG BARU SAJA DITERBITKAN SYGMA PUBLISHING (2008)]
Di masa lalu, ketika hidup saya dililit kesusahan dan kesulitan, saya terbiasa pergi sendirian ke Kebun Raya Bogor. Pohon-pohon tua besar dan rindang, rumput hijau luas menghampar, suara air sungai membentur batu-batu besar, kicau burung sahut-menyahut, ratusan rusa dengan warna dan corak kulit memesona, dan udara yang begitu segar adalah tempat perlindungan untuk hati yang sedang galau. Di tengah hidup yang menghimpit ketat, Kebun Raya Bogor menjadi taman yang membebaskan.
Dulu, ketika menjalaninya saya tak pernah berpikir mengapa saya pergi ke sana setiap kali beban hidup terasa begitu menghimpit. Belakangan saya tahu jawabannya: Saya mencari sesuatu yang memang lekat dengan hidup saya sejak kanak-kanak dan kemudian hilang di tengah hutan beton Jakarta. Saya mencari semacam “taman” seperti kafilah pengembara yang mencari oase setelah perjalanan yang terlampau panjang di tengah kepungan kekeringan dan dahaga.
Saya memang menjalani hidup sejak masa kanak-kanak di tengah alam. Rumah kami adalah satu-satunya rumah di tengah kepungan sawah. Rumah kami di Sanur, Bali, memang berdiri di satu tempat yang kala itu disebut sebagai “tempat jin membuang anak”. Terpencil nyaris sendirian.
Tapi di sanalah saya menjalani masa kanak-kanak yang sungguh indah. Rumah kami berhadapan dengan hamparan sawah yang langsung bertemu pantai. Di sisi kiri rumah, sebuah sungai mengalir dan menyediakan tempat bermain yang amat menyenangkan.
Ibu sering membawa kami ke padang rumput yang banyak terhampar di sekitar rumah. Nyaris tenggelam dalam rimbunan semak, saya biasa bermain kejar-kejaran dengan capung beraneka warna atau bermain layang-layang, sementara Ibu asyik membaca.
Saya pun bersyukur tumbuh di sebuah kampung, di tengah alam yang sangat bersahabat. Saya bersyukur karena merasa hidup terkepung oleh “taman” yang memberi udara segar, sinar matahari, dan daya hidup. Saya menjadi semacam penikmat “taman”.
Maka, saya girang tak kepalang membaca buku Azimah Rahayu, seorang penggiat di komunitas Forum Lingkar Pena. Azimah membuat sebuah taman bunga dan saya – sebagaimana Anda yang sedang mulai membuka buku ini – dipersilakan menikmatinya.
Ya, buku ini memang seumpama taman. Kita memasukinya untuk memanjakan mata dengan keindahan dan membiarkan penciuman menghirup harum semerbak. Di taman Azimah ini kita dihangatkan matahari dan diberi kesempatan duduk tenang memikirkan segala sesuatu dengan cara baru dan segar. Lalu, hidup menjadi terasa lebih ringan, lapang dan penuh harapan.
Azimah menata taman ini ke dalam enam kelompok bunga: Melati, Mawar, Sakura, Anggrek, Teratai, dan Anyelir.[***] Setiap kelompok terdiri dari sembilan sampai dengan empat belas tangkai cerita. Masing-masing kelompok berisi himpunan cerita dalam tema sejenis. Tema yang dirangkainya berada dalam banyak ragam kuntum, mulai dari kepatutan sikap dan tingkah laku terhadap sesama atau solidaritas sosial, tentang diri dan pengembangan potensi diri, keutamaan ibu dan kaum perempuan, penikahan dan keluarga, kebajikan-kebajikan orang terdekat, hingga belajar hidup dari anak-anak dan dunia mereka.
Cerita-cerita itu bukanlah sekadar cerita. Semua cerita itu menawarkan hikmah “kearifan sehari-hari” atau dalam bahasa Inggris biasa dikenali sebagai daily wisdom. Beberapa situs internet memaknai daily wisdom sebagai cerita, alegori atau komentar tentang kehidupan. Lebih dari sekadar itu, buku Azimah ini menurut hemat saya adalah sebuah kearifan sehari-hari dalam maknanya yang lebih dalam.
DELAPAN KELEBIHAN
Melampaui makna kearifan sehari-hari yang biasa digunakan, hikmah-hikmah yang bisa kita petik dari buku Azimah tidak saja berisi moral cerita yang penuh manfaat tapi juga kepatutan dan moralitas hidup secara mendalam. Kedalamannya terutama dibentuk oleh setidaknya delapan keunggulan sekaligus.
Pertama, Azimah menuturkan kearifan-kearifan sehari-hari itu dalam “bahasa aku”. Ia menjadi penutur dari hidup sehari-hari yang ia jalani. Penggunaan bahasa aku ini, sebagaimana saya rasakan sendiri, berpotensi untuk mendekatkan jarak antara sang penutur atau sang penulis dengan khalayak pembacanya. Terbangunlah sebuah hubungan interaktif yang bersifat personal. Luruhlah tembok yang memisahkan penulis dan pembaca. Azimah dan pembacanya seperti berada dalam satu ruangan sama, tanpa sekat pemisah.
Kedua, kearifan sehari-hari itu ditampilkan oleh Azimah dengan gaya bercerita, bukan tuturan petunjuk. Buku ini tak terjebak menjadi buku “resep untuk menghadapi hidup dan menjalani dunia secara Islami”. Tanpa pretensi menjadi buku resep, buku ini bercerita tentang proses perjalanan hidup. Dalam proses inilah penulis kemudian menyisipkan hikmah-hikmah bernilai mengenai kepatutan dalam menghadapi dan menyikapi persoalan hidup sehari-hari. Semua hikmah itu kemudian seperti terbawa begitu saja dalam arus cerita kejadian sehari-hari yang mengalir lancar dan deras.
Ketiga, yang ditampilkan Azimah bukanlah sekadar gaya bercerita, melainkan sebuah kemampuan bercerita yang sungguh baik. Setiap bagian dari buku ini tampil secara memikat dengan pengemasan cerita yang layak. Kemampuan bercerita Azimah yang baik membuat buku ini menjadi – meminjam motto majalah berita mingguan Tempo – enak dibaca dan perlu. Jika saja tidak ada aktivitas lain yang wajib saya kerjakan, berat rasanya melepas naskah buku ini sebelum tuntas saya baca.
Keempat, tiap bagian buku ini ditampilkan dalam bentuk yang ringkas, padat dan efisien. Penulis tak punya tendensi untuk membuat cerita yang berputar-putar. Cerita-cerita yang ditampilkan kemudian terhidang dalam bagian-bagian yang kuat berpadu, langsung ke sasaran, dan mengena. Sifat ringkas, padat dan efisien ini, menurut saya, menjadi kekuatan pokok dari enam puluh enam cerita yang tersaji di sini.
Kelima, buku ini berhasil mengindari jebakan yang umumnya dihadapi oleh cerita kearifan sehari-sehari dengan bahasa aku: narsistik atau cenderung mengagung-agungkan diri sendiri. Kita tak menemukan narsisme dalam cerita-cerita Azimah. Secara umum, cerita-cerita personal Azimah tampil dengan kerendahhatian yang cukup terjaga. Tak ada kesan kepahlawanan atau heroisme yang berlebihan. Misalnya, ketika penulis berkali-kali menggali cerita dari aktivitas sosialnya mengelola taman bacaan bagi anak-anak, kita tak menemukan kesan membanggakan diri atau memamerkan budi baik. Ketika ajaran-ajaran Islam dikedepankan secara eksplisit di banyak bagian buku ini, kita juga tak menemukan kesan sombong dalam ber-Islam.
Keenam, menurut hemat saya dengan segenap keterbatasan pemahaman saya tentang Islam, muatan-muatan cerita Azimah berhasil “mewakili” Islam dalam wujud yang membebaskan dan segar. Cerita-cerita Azimah menegaskan betapa Islam sesungguhnya sudah menyediakan semacam panduan yang selesai mengenai kearifan sehari-hari yang bersifat cair dan ringan tak memberatkan. Panduan Islam itu dalam batas-batas tertentu bahkan bersifat customized, yakni bisa disesuai dan sepadankan dengan pribadi yang berbeda dalam konteks persoalan kehidupan yang beragam. Dalam wujudnya seperti inilah Islam menjadi rahmat bagi sekalian alam, sebagaimana diwahyukan Allah dan diajarkan Rasulullah.
Ketujuh, dengan kecerdasan dan kerendahhatian penulis dalam bercerita, bagian-bagian buku ini pun punya potensi untuk meluruskan prasangka bahwa ajaran agama yang dimasukkan menjadi moral sebuah cerita kerapkali hanya punya fungsi memvonis. Dalam tubuh cerita, agama kerap dipahami secara salah kaprah sebagai palu hakim yang mengetukkan vonis tentang kebaikan dan keburukan dalam nada hitam putih neraka-surga. Menurut saya, Azimah cukup berhasil melawan dan meluruskan syak wasangka yang sudah lazim itu.
CANTIK DAN AIR WUDLU
Saya ingin menggarisbawahi keunggulan kedelapan secara lebih khusus. Melalui cerita-cerita yang menggugah – yang beberapa diantaranya sungguh mengharukan – Azimah menawarkan perspektif segar dan kadang-kadang terasa baru dalam memandang hal-hal sehari-hari. Perspektif Azimah menjadi menarik karena kerapkali berbeda dari yang biasanya digunakan secara lazim. Izinkan saya menggambarkan beberapa contohnya.
Azimah menawarkan cara baru memandang kecantikan. Bagi Azimah, kecantikan tidaklah datang dari bungkus-bungkus fisik. Kecantikan datang dari jiwa yang memancar berpendar-pendar. Cantik adalah perkara kenyamanan, ketenangan dan kematangan jiwa.
Dalam perspektif yang rutin, cantik difahami secara sangat fisik: putih, mengkilat, ramping, serba terbuka dan menampilkan aspek-aspek seksualitas yang melekat pada raga. Perlombaan menjadi cantik pun menjadi ajang pertarungan memoles segala hal fisik yang melekat pada badan atau raga. Cantik menjadi persoalan kecanggihan membubuhkan kosmetika untuk membuat tampilan yang paling “modern”.
Azimah menolak perspektif itu. Ia mengubah pemaknaan cantik dari segala hal yang bersifat kemasan menjadi isi. Cantik itu tidaklah semata-mata berurusan dengan bagaimana tubuh dipresentasikan melainkan bagaimana jiwa ditata, perilaku dijaga, dan aura kebaikan direpresentasikan. Pembentukan kecantikan pun tak memerlukan hal-hal yang bersifat fisik dan kosmetik. Pembentukan kecantikan, dalam perspektif Azimah, berkaitan dengan air wudlu, berdoa mendekat kepada Sang Pencipta, shalat lima waktu yang dilengkapi Dhuha dan Tahajud, serta kebajikan yang dipupuk untuk menyuburkan kehidupan.
Saya tak bisa lain selain bersetuju dengan perspektif Azimah. Menurut saya, cantik itu sejatinya tak punya standar fisik, apalagi yang bersifat universal. Secara fisik, seorang perempuan sesungguhnya tak bisa dipilah menjadi yang cantik dan tak cantik atau buruk rupa. Secara fisik, satu-satunya pemilahan yang bisa dilakukan adalah “setiap perempuan secara fisik berbeda.” Selebihnya, kecantikan adalah sesuatu yang memancar dari dalam, berpendar-pendar keluar lewat jendela hati.
LAKI-LAKI KECIL
Contoh lain tentang perspektif segar yang ditawarkan Azimah dapat kita temukan pada bagian “Anyelir” yang ada di akhir buku ini. Bagi Azimah, anak-anak nakal sesungguhnya tidak pernah ada. Yang ada adalah kehendak meluap-luap pada anak untuk mengeksplorasi segala hal. Ketika kehendak meluap ini berpadu dengan kebelumtahuan mengenai risiko sebuah tindakan, maka yang kita temukan adalah tindakan berbahaya yang mencemaskan. Tapi, itu bukanlah kenakalan.
Azimah mengajak kita untuk tidak memahami anak dari perspektif orang dewasa dengan segenap kecanggihannya melihat persoalan. Anak hanya bisa diselami dengan perspektif anak. Orang dewasa yang gagal memahami anak dari perspektif anak, akhirnya hanya akan gagal menangani anak-anak.
Selain gagal memahami “kenakalan” anak-anak, menurut saya, lebih jauh lagi orang dewasa semacam itu akan berusaha memaksakan anak-anak menjadi semacam “replika orang dewasa”. Lihatlah anak-anak yang menyanyi di televisi. Mereka berdandan seperti orang dewasa dengan polesan make up khas orang dewasa yang membuat mereka kehilangan rona kanak-kanak di wajahnya. Mereka menyanyi dengan gaya orang dewasa. Bahkan tak jarang, mereka membawakan lagu yang jelas-jelas tak sesuai dengan usia mereka.
Gejala serupa saya temukan dalam kontes dai cilik di sebuah stasiun televisi. Kontes itu menjadi arena pameran replika dai-dai dewasa. Cara anak-anak menyampaikan ayat-ayat suci, cara mereka memulai dan mengakhiri tausiyah, bahkan humor-humor yang mereka sisipkan dalam tausiyahnya meniru habis-habisan para pendakwah dewasa. Mereka kehilangan aura anak-anaknya, kelucuannya, dan kejujuran untuk menjadi diri sendiri.
Azimah menampilkan cara pandangnya yang segar dalam memahami anak-anak. Cerita-ceritanya mengenai anak-anak pengunjung taman bacaan anak di rumah Azimah di Jakarta adalah favorit saya. Favorit saya yang lain adalah cerita-cerita tentang Fitra, keponakan Azimah yang tinggal di Solo yang kerap disebutnya sebagai laki-laki kecil.
BAITI JANNATI
Cara pandang segar juga ditawarkan Azimah untuk melihat rumah kita masing-masing dengan segala keterbatasannya. Azimah lahir dan besar di Solo. Ia dibesarkan di sebuah rumah yang terlalu bersahaja untuk dikunjungi teman-temannya. Pada satu waktu di masa kanak-kanaknya, Azimah merasa malu dengan rumahnya yang terlampau buruk. Terlebih-lebih karena adanya sebuah kamar mandi yang didirikan terpisah dari rumah utama dan salah letak: di sisi depan rumahnya.
Saya yakin banyak anak-anak di Indonesia – apalagi anak-anak yang diizinkan orang tuanya menonton tayangan sinetron di televisi yang menawarkan mimpi-mimpi muluk tentang rumah besar berkolam renang – salah membayangkan rumah terbaik untuk mereka. Mereka pikir, rumah yang baik adalah yang megah, besar, penuh fasilitas, dikepung oleh berbagai jenis mainan. Lalu, dengan isi kepala seperti itu, mereka menjadi malu dan tak membanggakan rumahnya yang kecil dan terlalu sederhana.
Azimah mengajak kita keluar dari cara pandang itu. Secara mengharukan Azimah bercerita tentang betapa ia tersadar kemudian bahwa rumahnya ternyata adalah surganya. Baiti Jannati. Di rumah yang bersahaja itulah ada kedua orang tua dan dua orang saudara yang mencintainya dengan segenap ketulusan. Di rumah itulah ia dibesarkan dengan cinta dan hati yang selalu bersemi.
Memang begitulah adanya. Di rumah kita, dengan segala kekurangannya lah, kita tumbuh besar menjadi manusia. Rumah kecil kumuh dan terlihat seperti memalukan sesungguhnya bisa menjadi tempat persemaian manusia besar. Sementara rumah-rumah besar jangan-jangan justru membunuhi kemanusian para penghuninya. Inilah hal-hal yang segera saya pikirkan setelah membaca cerita Azimah tentang rumahnya. Saya memikirkannya sambil iri pada Azimah yang punya kamar tiga kali tiga meter dengan perabotan ala kadarnya, tapi punya jendela yang membuatnya bisa melihat dunia yang benderang.
Contoh lain mengenai perspektif segar yang ditawarkan Azimah dapat kita temukan dalam ceritanya tentang anak-anak yang menjadi mandiri karena ditinggal Ibu mereka bekerja di luar rumah. Lewat sosok Naura, Rahman, Hasan dan Azka, Azimah menunjukkan bahwa meninggalkan anak-anak di rumah untuk bekerja mencari kemaslahatan tak melulu mendatangkan keburukan.
Ibu yang keluar rumah untuk kebaikan keluarganya ternyata, dengan atau tanpa mereka sadari, mengajarkan anak-anak mereka yang ditinggal di rumah menjadi lebih mandiri, lebih matang secara emosi, dan dewasa. Bagi ibu-ibu yang berkarier di luar rumah, seperti saya, perspektif semacam ini memang menenangkan, tetapi tentu saja dengan beberapa catatan.
Catatannya, kita – para ibu yang bekerja – bagaimanapun mesti tetap punya mekanisme untuk tersambung terus dengan anak-anak kita. Fitrah hubungan ibu-anak sudah dibentuk Allah melalui fondasi sembilan bulan sepuluh hari ketika sang anak masih tertanam di dalam rahim ibu. Fitrah itulah yang membuat anak-anak akan terus mencari ibunya, jauh melebihi usaha mereka mencari ayahnya. Saya yakin karena sebab itulah Rasulullah meminta kita menghormati ibu kita, ibu kita, ibu kita, dan baru kemudian ayah kita.
MUSIBAH SEBAGAI BERKAH YANG TERTUNDA
Izinkan saya memberi satu lagi contoh – contoh yang terakhir – mengenai perspektif segar yang ditawarkan Azimah. Dalam beberapa bagian buku ini, Azimah menceritakan musibah-musibah yang pernah dialaminya. Yang justru menarik dan penting dari cerita-cerita itu adalah cara pandang Azimah yang sangat positif terhadap musibah. Meminjam jargon yang dipakai oleh iklan sebuah produk, saya ingin menamai cara pandang ini sebagai “musibah adalah berkah yang tertunda”.
Bagi Azimah, musibah adalah pintu-pintu yang disediakan Tuhan menuju kebaikan. Musibah adalah sebuah skenario yang selalu berakhir baik bagi mereka yang menjalaninya dengan penuh sabar dan tawakal. Inilah setidaknya yang menjadi moral cerita Azimah tentang musibah kecopetan dompet yang membuatnya tak bisa membayar uang kuliah dan tak punya persediaan uang cukup untuk bertahan hidup lebih dari dua minggu di Jakarta. Moral cerita yang sama kita tangkap ketika Azimah bercerita tentang musibah tertabraknya pintu taksi oleh bajaj karena salah seorang anak didiknya di taman bacaan anak membuka pintu belakang taksi yang mereka naiki tanpa menoleh dan melihat kelengangan jalan di belakang mereka. Akibatnya, Azimah harus rela mengeluarkan uang pengganti pintu taksi yang rusak.
Bukan musibah itu yang penting digarisbawahi, melainkan bagaimana Azimah menyikapinya serta bagaimana Allah membalas sikap-sikap itu dengan amat sepadan. Dengan keyakinan kuat bahwa Allah senantiasa membuat skenario terbaik bagi makhluknya, kita dituntut untuk mensyukuri musibah itu serta menyikapinya tanpa kehilangan kendali emosi.
Setiap kali sebuah musibah datang, maka sangat boleh jadi di belakangnya sesungguhnya menguntit berkah yang belum kelihatan. Saya sendiri yakin bahwa – sebagaimana Islam mengajarkan – di balik kebaikan boleh jadi tersembunyi keburukan dan di balik keburukan boleh jadi tersembunyi kebaikan.
Saya sendiri membuktikan itu dalam kaitan dengan keputusan memakai hijab sejak pulang berhaji di awal 2006. Segera setelah keputusan itu saya buat, sesuai dugaan, ujian pertama datang dari tempat saya bekerja, Metro TV.
Sekalipun tanpa dilandasi aturan tertulis, saya tidak diperkenankan untuk siaran karena berjilbab. Pimpinan Metro TV sebetulnya sudah mengijinkan saya siaran dengan jilbab asalkan di luar studio, setelah berbulan-bulan saya memperjuangkan izinnya. Tapi, mereka yang mengelola langsung beragam tayangan di Metro TV menghambat saya di tingkat yang lebih operasional. Akhirnya, setelah enam bulan saya berjuang, bernegosiasi, dan mengajak diskusi panjang sejumlah orang dalam jajaran pimpinan level atas dan tengah di Metro TV, saya merasa pintu memang sudah ditutup.
Sementara itu, sebagai penyiar utama saya mendapatkan gaji yang tinggi. Untuk menghindari fitnah sebagai orang yang makan gaji buta, akhirnya saya memutuskan untuk cuti di luar tanggungan selama proses negosiasi berlangsung. Maka, selama enam bulan saya tak memperoleh penghasilan, tapi dengan status yang tetap terikat pada institusi Metro TV.
Setelah berlama-lama dalam posisi yang tak jelas dan tak melihat ada sinar di ujung lorong yang gelap, akhirnya saya mengundurkan diri. Pengunduran diri ini adalah sebuah keputusan besar yang mesti saya buat. Saya amat mencintai pekerjaan saya sebagai reporter dan presenter berita serta kemudian sebagai anchor di televisi. Saya sudah menggeluti pekerjaan yang amat saya cintai ini sejak di TVRI Denpasar, ANTV, sebagai freelance untuk sejumlah jaringan TV internasional, TVRI Pusat, dan kemudian Metro TV selama 15 tahun, ketika saya kehilangan pekerjaan itu. Maka, ini adalah sebuah musibah besar bagi saya.
Tetapi, dengan penuh keyakinan bahwa Allah akan memberi saya yang terbaik dan bahwa “dunia tak selebar daun Metro TV’, saya bergeming dengan keputusan itu. Saya yakin di balik musibah itu, saya akan mendapat berkah dari-Nya.
HIKMAH BERJILBAB
Benar saja. Sekitar satu tahun setelah saya mundur dari Metro TV, ibu saya terkena radang pankreas akut dan mesti dirawat intensif di rumah sakit. Saya tak bisa membayangkan, jika saja saya masih aktif di Metro TV, bagaimana mungkin saya bisa mendampingi Ibu selama 47 hari di rumah sakit hingga Allah memanggilnya pulang pada 28 Mei 2007 itu. Bagaimana mungkin saya bisa menemaninya selama 28 hari di ruang rawat inap biasa, menungguinya di luar ruang operasi besar serta dua hari di ruang ICU, dan kemudian 17 hari di ruang ICCU?
Hikmah lain yang saya sungguh syukuri adalah karena berjilbab saya mendapat kesempatan untuk mempelajari Islam secara lebih baik. Kesempatan ini datang antara lain melalui beragam acara bercorak keagamaan yang saya asuh di beberapa stasiun TV. Metro TV sendiri memberi saya kesempatan sebagai tenaga kontrak untuk menjadi host dalam acara pamer cakap (talkshow) selama bulan Ramadhan.
Karena itulah, saya beroleh kesempatan untuk menjadi teman dialog para profesor di acara “Ensiklopedi Al Quran” selama Ramadhan tahun lalu, misalnya. Saya pun mendapatkan banyak sekali pelajaran dan pemahaman baru tentang agama dan keberagamaan. Islam tampil makin atraktif, dalam bentuknya yang tak bisa saya bayangkan sebelumnya. Saya bertemu Islam yang hanif, membebaskan, toleran, memanusiakan manusia, mengagungkan ibu dan kaum perempuan, penuh penghargaan terhadap kemajemukan, dan melindungi minoritas.
Saya sama sekali tak merasa bahwa saya sudah berislam secara baik dan mendalam. Tidak sama sekali. Berjilbab pun, perlu saya tegaskan, bukanlah sebuah proklamasi tentang kesempurnaan beragama atau tentang kesucian. Berjibab adalah upaya yang amat personal untuk memilih kenyamanan hidup.
Berjilbab adalah sebuah perangkat untuk memperbaiki diri tanpa perlu mempublikasikan segenap kebaikan itu pada orang lain. Berjilbab pada akhirnya adalah sebuah pilihan personal. Saya menghormati pilihan personal orang lain untuk tidak berjilbab atau bahkan untuk berpakaian seminim yang ia mau atas nama kenyamanan personal mereka. Tapi, karena sebab itu, wajar saja jika saya menuntut penghormatan serupa dari siapapun atas pilihan saya menggunakan jilbab.
Hikmah lainnya adalah saya menjadi tahu bahwa fundamentalisme bisa tumbuh di mana saja. Ia bisa tumbuh kuat di kalangan yang disebut puritan. Ia juga ternyata bisa berkembang di kalangan yang mengaku dirinya liberal dalam berislam.
Tak lama setelah berjilbab, di tengah proses bernegosiasi dengan Metro TV, saya menemani suami untuk bertemu dengan Profesor William Liddle – seseorang yang senantiasa kami perlakukan penuh hormat sebagai sahabat, mentor, bahkan kadang-kadang orang tua – di sebuah lembaga nirlaba. Di sana kami juga bertemu dengan sejumlah teman, yang dikenali publik sebagai tokoh-tokoh liberal dalam berislam.
Saya terkejut mendengar komentar-komentar mereka tentang keputusan saya berjilbab. Dengan nada sedikit melecehkan, mereka memberikan sejumlah komentar buruk, sambil seolah-olah membenarkan keputusan Metro TV untuk melarang saya siaran karena berjilbab. Salah satu komentar mereka yang masih lekat dalam ingatan saya adalah, “Kamu tersesat. Semoga segera kembali ke jalan yang benar.”
Saya sungguh terkejut karena sikap mereka bertentangan secara diametral dengan gagasan-gagasan yang konon mereka perjuangkan, yaitu pembebasan manusia dan penghargaan hak-hak dasar setiap orang di tengah kemajemukan.
Bagaimana mungkin mereka tak faham bahwa berjilbab adalah hak yang dimiliki oleh setiap perempuan yang memutuskan memakainya? Bagaimana mereka tak mengerti bahwa jika sebuah stasiun TV membolehkan perempuan berpakaian minim untuk tampil atas alasan hak asasi, mereka juga semestinya membolehkan seorang perempuan berjilbab untuk memperoleh hak setara? Bagaimana mungkin mereka memiliki pikiran bahwa dengan kepala yang ditutupi jilbab maka kecerdasan seorang perempuan langsung meredup dan otaknya mengkeret mengecil?
Bersama suami, saya kemudian menyimpulkan bahwa fundamentalisme – mungkin dalam bentuknya yang lebih berbahaya – ternyata bisa bersemayam di kepala orang-orang yang mengaku liberal.
KEMAHAARIFAN ALLAH
Pengantar ini sudah terlalu panjang. Sekaranglah saatnya saya membuat semacam penutup. Jika saya rumuskan dalam kalimat singkat dan padat, buku karya Azimah ini adalah sebuah “kitab tentang kemahaarifan Allah dan kebajikan sehari-sehari”.
Melalui cerita-cerita ringan sehari-hari, Azimah menegaskan bahwa Islam bukanlah semata-mata agama yang datang dengan janji Surga di masa depan yang jauh. Islam juga membawa tuntunan untuk berlaku penuh kearifan dan kebajikan dalam jangka pendek, dalam hitungan detik-menit-jam, dalam hidup keseharian.
Islam juga tak sekadar mewajibkan kesalehan ritual dalam hubungan vertikal manusia dengan Tuhannya. Islam justru menekankan pentingnya kesalehan sosial dalam hidup sehari-hari ketika setiap manusia hidup bersama dengan manusia-manusia lainnya di tengah keragaman.
Maka Azimah, sekalipun tanpa pretensi itu, sesungguhnya menawarkan sebuah jembatan.
Agama sebagai tuntutan hidup berskala besar (untuk berbahagia di dunia dan akhirat) dan agama sebagai jalan bagi kolektivitas masyarakat untuk memperbaiki diri (dimensi-dimensi sosial dan perekayasaan kehidupan dalam Islam) adalah dua bagian yang punya potensi untuk terpisah. Mereka yang menggarap aspek pertama bisa terjebak untuk memaknai Islam sebagai agama yang kaku, yang hanya menawarkan Surga dengan segenap tuntutan ritual sebaga prasyarat atau tiketnya. Mereka yang menggarap aspek kedua akan keasyikan mengurusi muamalah sambil makin lama melupakan pentingnya pengasahan diri secara personal melalui praktik ritual yang disyariatkan.
Panduan-panduan hidup keseharian sebagaimana ditegaskan oleh cerita-cerita Azimah di dalam buku ini bisa kita pandang sebagai jembatan di antara dua kemungkinan itu. “Kemahaarifan Allah dan kebajikan sehari-hari” yang diajarkan Islam punya potensi untuk membuat hal-hal jangka panjang yang dijanjikan Islam (Surga-Neraka) dan dimensi-dimensi sosial berskala besar dan kolektif menjadi tersambung.
Inilah pendapat sementara saya yang tentu saja masih harus diuji. Dengan segenap keterbatasan pemahaman saya tentang Islam, saya menemukan buku Azimah ini sebagai sebuah kitab yang sangat berguna. Kitab ini mengajak kita menjalankan kebajikan Islam melalui pikiran, perkataan dan perbuatan, tanpa perlu menggembar-gemborkannya lewat pengeras suara seolah-olah kita sedang berusaha mengubah dunia dengan tangan kita.
Meminjam istilah yang dipakai Azimah sendiri, cerita-cerita di buku ini berguna untuk “menyalakan lilin di hati”. Sambil, terus kita yakini bahwa “Masih ada, pasti masih ada, calon-calon pengubah wajah negeri menjadi lebih baik lagi.”
Selamat membaca!
Bintaro Jaya, 14 Juli 2008
(***) Karena terlalu asyik menikmatinya, saya baru sadar belakangan bahwa satu kelompok bunga, yaitu “Teratai”, ternyata saya lewatkan. Penerbit rupanya lupa menyertakan sepuluh bab yang terhimpun dalam bagian “Teratai” dalam naskah yang saya terima. Saya baru menyadarinya secara amat terlambat, ketika kata pengantar ini mulai saya tulis dan tak ada lagi keleluasaan waktu untuk meminta tambahan naskah yang tertinggal itu. jauh sebelum menikah, saya (merasa) sudah mengalokasikan waktu dan pikiran untuk belajar menjadi orang tua yang baik, belajar mengenai pengasuhan anak secara fisik (tumbuh kembang, makanan, kesehatan) dan pengasuhan anak secara psikis (pendidikan). karena itu saya cukup pede menuliskan ulasan-ulasan saya tentang anak didik, anak tetangga dan keponakan. Khusus untuk si keponakan (Laki-laki kecil bernama Fitra yang kini telah kelas 4 SD/baru saja ultah ke 9 tanggal 5 des kemarin), saya bahkan menjadi perawat/konsultan kesehatan&tumbuh kembangnya ketika bayi, dengan cara berkonsultasi juga kepada teman2 dokter saya dan buku2 panduan pendidikan&kesehatan anak. Jauh sebelum dan menjelang saya punya bayi, saya mengumpulkan sekian banyak literatur dan artikel populer mengenai kehamilan, kesehatan dan tumbuh kembang serta pendidikan anak (lagi) dan membacanya. Dengan bekal itu, saya merasa cukup percaya diri untuk mengurus dan mendidik anak dengan baik. Pada kenyataannya, praktek tidaklah semudah theori yang pernah saya baca. Pun, theori hanya memberikan panduan dasar yang terbatas, sementara permasalahan pada praktek jauh lebih lebar dan dalam. Begitulah. Saya kesulitan dan kerepotan mengurus anak bahkan sejak hari-hari pertama, dalam arti, kesehatan Fatih dan tumbuh kembangnya bermasalah bahkan sejak hari-hari pertama. Ditambah ekspektasi dan persepsi bahwa (harusnya) saya lebih pinter ngurus anak karena saya membaca/belajar, dibanding mereka yang tidak belajar, depresi dan stress saya makin tinggi ketika menemukan bahwa ternyata saya tak becus ( adakah ekspresi lebih sopan untuk kemarahan ini?) mengurus anak. Fatih sakit-sakitan sejak kecil, agak lambat tumbuh kembangnya dibanding teman-teman sebaya. Berkali-kali dengan berat hati saya harus kompromi dengan lingkungan, dokter dan hati saya sendiri meskipun pikiran ideal saya menyatakan harusnya saya tidak demikian. Belakangan, saya menyadari bahwa sesungguhnya bekalan saya dulu itu belum cukup dan memang tidak akan pernah cukup selama hanya berupa teori yang saya baca. Untuk bisa menjadi cukup, saya harus terus menerus belajar, menggali informasi, sharing dari berbagai sumber: literatur, prkatisi kesehatan, pendidikan dan tumbuh kembang anak, pengalaman orang tua (teman, saudara, tetangga, ibu bapak dan mertua) dan kemudian menguji dan menerapkannya dalam praktek yang bijak. Bahkan, bukankah dengan diberikan permasalahan, itu akan membuat pengetahuan kita lebih baik lagi? Karena jika anak kita baik-baik saja, itu tidak selalu berarti kita telah mengurusnya dengan baik dan benar, namun lebih kepada sebuah anugerah yang diberikan Allah, sementara dari diri kita tidak akan terdoroong untuk belajar lebih banyak. Seperti saat ini, diagnosis asma pada fatih mendorong saya untuk belajar lebih banyak tentang asma, dan kemudian merembet pada banyak lagi masalah kesehatan anak. Satu sisi ini saja, rasanya masih amat sangat banyak yang harus saya pelajari, belum lagi sisi yang lain. Memang terlambat, karena hal ini harusnya sudah saya lakukan sejak sebelum fatih ada, tapi terlambat masih lebih baik daripada tidak sama sekali kan? Dan semua ini akan terus berlangsung, terus dan terus, selama status orang tua masih saya sandang. Satu hal yang saya sukai dari Brisbane ( khususnya St Lucia) adalah lingkungannya yang bersih. Udaranya bersih, airnya bersih, sampahnya bersih (kecuali sampah organik yang memang dibiarkan, paling2 dipinggirkan ke bawah2 pohon sbg kompos) dan terutama bersih dari SERANGGA dan HEWAN PENGGANGGU. Bagaimana tidak? Saat masih di PRIOK, tikus got, tikus curut, kecoak, semut dan nyamuk adalah "keluarga" saya. tikus got dan kecoak adalah penguasa dapur dan kamar mandi, hingga saya sering minta suami 'inspeksi dulu' jika saya ingin ke dapur atau kamar mandi. Jujur saja, sejak saya masih kecil, dua hewan itu menempati peringkat pertama hewan yang bikin saya jijik dan takut. Semut? Well, saya tidak masalah dengannya, tapi seperti apa rasanya jika rumah tempat tinggal kita menjadi wilayah kerajaan semut dari berbagai jenis? Saya sampai-sampai sempat berpikir, rumah kami bisa ambruk karena pondasinya digerogoti semut. Nyamuk? Hmmm, tanyakan pada mereka yang pernah menginap di rumah saya: nyamuk priok memang ruarr biasa. Bukti lain adalah foto Fatih ketika usia dua bulan: full bercak merah. Makanya, sungguh bahagia saya ketika menemukan hunian di Brisbane bebas dari semua makhluk di atas. Catat ya; Hunian! Bukan berarti mereka tidak ada, hanya saja mereka hidup di habitatnya masing-masing, tidak merambah rumah tinggal manusia. Atau pun kalau ada, jumlahnya minimal. Hmm, sebenarnya ketika inspeksi unit/flat yang akhirnya kami tinggali sekarang, beberapa senior mengatakan bahwa biasanya banyak seranggga di rumah/hunian yang berada di dekat sungai. Gedung dimana flat saya berada memang hanya dipisahkan oleh jalan dan tanah kosong dari Brisbane River. Jaraknya tak sampai 100m. Tapi hampir selama satu tahun disini, saya hampir tidak pernah menemukan makhluk-makhluk di atas. Setidaknya di dalam rumah kami. Mungkin ini juga karena setiap ventilasi di setiap rumah dilengkapi dengan kawat nyamuk? Apa pun penyebabnya, saya gembira dan bersyukur terbebas dari makhluk pengganggu dan penyebar penyakit itu. Sampai ketika spring menjelang. Jacaranda menghiasi St Lucia dengan bunga warna ungunya yang indah. Tapi saya mulai senewen dengan lalat besar yang suka ikutan masuk ke rumah jika saya membuka pintu sedikit saja. Saya mulai mengernyit kening pada flies mungil yang seakan muncul dari buah pisang yang saya beli dan taruh di meja dapur. Saya mulai bingung dengan flies kecil sejenis yang mulai menghuni kamar mandi. Kegiatan menepok-nepok pun mulai menambah pekerjaan, sekalipun ini juga menjadi permainan tambahan untuk Fatih: menepok ke udara dan loncat-loncat (kagak peduli ada flies atau tidak:p) Dan beberapa hari lalu, ketika hujan mulai menghiasi Brisbane, saya terpana dengan adanya beberapa semut besar yang mengekspansi kamar saya. Saya tidak tahu darimana mereka masuk, tapi sepertinya melalui sela-sela kawat nyamuk di jendela yang sering saya biarkan terbuka sliding jendelanya untuk mengurangi gerah. Sampai pada level ini, senewen saya masih wajar-wajar saja. sampai kurang dari setengah jam yang lalu, ketika saya sedang asyik mantengin layar sambil maem dini hari (2am boo!) sesosok makhluk mungil berwarna coklat menabrak kaki saya dan nyaris membuat saya menjerit: ya Rabbi, ada kecoak di kamar saya!!!! Untung saya masih bisa menahan jeritan sehingga Fatih yang sedang tertidur nyenyak tidak terganggu. Tapi tak urung suami yang baru 1jam tidur kaget dan terbangun lalu terpaksa memburu sang kecoa. Tampaknya saya harus mengucapkan selamat bertemu kembali pada 'keluarga2' saya itu. Terima kasih atas kedatangan kalian, yang seakan memberitahu saya untuk hidup lebih bersih lagi. Dan mumpung liburan, setelah weekend ini, saya akan bergerilya, membersihkan rumah dari segala serangka, hewan pengganggu dan dust mites. Terutama, demi Fatih yang harus dijauhkan dari berbagai trigger yang dapat membuat asmanya memburuk. Untuk itu, sebelum memulai operasi, saya sampaikan salam perpisahan dulu untuk kalian, wahai makhluk2 mungil. hari-hari terakhir, Fatih suka sekali nonton video nursery rhymes. sehari bisa 3-4x, masing2 minimal 30menit. akibatnya, laptop lebih banyak dipake fatih daripada Ibu. udah gitu, video nursery rhymes itu bukan dari vcd or dvd (belum beli neh), tp dari youtube, khan bisa bobol internet neh. biasanya, Fatih hanya pengen jika laptopnya kelihatan, pas dipake ibu misalnya. Tapi beberapa hari ini jika dia sering teringat dan tiba-tiba minta disetelin, di tengah aktifitas apapun yang sedang dilakukannya. Jika dia teringat pengen nonton, maka dia akan lari ke kamar dan mengambil laptop ibu dibawah tempat tidur, membawanya ke tempat ibu berada dan minta disetelin. Seperti hari ini. Di tengah makan, tiba-tiba dia bilang "ba...baaa, baa ba (lagu baa baa blacksheep, yang paling dia suka) dan langsung lari ke kamar mencari laptop. Bapak fatih ngintip dari pintu trus balik lagi: ga akan bisa ngambil, jauh di tengah." Ya, ibu memang menaruhnya jauh ke dalam di bawah tempat tidur, supaya tidak bisa diraih fatih. Ibu lantas memanggil-manggil fatih sambil berusaha menarik perhatiannya." Fatiiih, look the bird is coming.... " ga mempan. Oke, jurus berikutnya "wooow goaal!" ga mempan juga. Ibu lantas membaca buku kesukaan fatih dengan suara keras, "kangaroo, ko-a-la, ap-ple, ice-cream!". eh, tetap tidak mempan. dari dalam kamar, terdengar, "baa...baaa, baa baa" disertai rengekan dan setengah tangis hingga hampir 15 menit. Ketika suara berhenti, sempat terdengar suara "bluk", kemudian diikuti munculnya Fatih dari pintu dengan napas terengah-engah, dengan laptop d kedua tangan. masya Allah, nak. gimana caramu tadi mengambilnya? Malamnya, ketika fatih sudah tidur, Ibu tidak menemukan Laptop ketika mau pake. "laptopku dimana, mas?" si mas menunjuk ke lemari bagian atas, tempat kami menyimpan koper, stock susu, stock nappy dan semua barang yang jarang dipake lainnya.Oh my God! Demi menjauhkan barang dari jangkauan Fatih, Ibu harus mengambil kursi untuk bisa mengambil laptop. Lha wong ditaruh di bawah tempat tidur sudah tidak aman, di lemari bagian bawah dan laci-lacinya juga sudah bisa dibuka dan diambil Fatih. kejdian hari ini, mengikuti kejadian kemarin, dimana kesukaan fatih mengeksplore fridge sudah naik tingkat ke eksplore freezer, dengan cara membawa kursi kecilnya untuk pijakan, seperti cara dia meraih saklar, benda-benda di atas tipi dan laci-laci dapur serta naik ke meja makan. untungnya, 'dingin' menyebabkan fatih tidak melanjutkan minatnya pada freezer. saat ini, tempat aman yang tersisa di rumah dari Fatih hanya lemari kamar bagian atas itu, plus lemari pantry temat ibu menyimpan bahan makanan kering. But someday, kayaknya fatih akan bisa menembusnya juga. Yah, memang merepotkan dan bikin pusing, tapi setidaknya ini menenangkan ibu: bahwa Fatih normal, terus berkembang, dan memiliki kelebihan selain kekurangan dan 'sakit2an' yang dimilikinya. Alhamdulillag ya Rabb. Waktu di Indo, bisa dibilang, Fatih lebih sering sakit daripada sehatnya. Bahkan ketika sempat hidup di kampung selama 2-3bulan, sebelum ikut Ibu ke Brisbane, Fatih juga tetap lebih sering sakitnya, padahal di kampung Mbah-nya Fatih jauh lebih bersih lingkungannya di bandingkan Jakarta bagian Priok, tempat tinggal Fatih sejak lahir hingga usia 10 bulan. ketika pindah ke Brisbane, Fatih langsung sakit lagi, tapi hanya 3 hari, setelah itu relatif sehat terus selama kurang lebih 5 bulan. Fakta ini membuktikan bahwa di lingkungan yang bersih, dan terkarantina dari interaksi banyak orang (karena selama itu fatih jarang berinteraksi dengan banya orang terutama anak-anak sebaya), Fatih sehat-sehat saja. namun sejak masuk day care, kondisi Fatih hampir sama seperti ketika di Indo: gampang sekali sakit. Bahkan hari pertamanya di day care langsung absen, sakit terpapar virus ketika 3 hari masa orientasi, pekan sebelumnya. Sejak itu, batuk pilek menjadi langganan Fatih. terutama runny nose-nya: sembuh seminggu, kena lagi hingga berminggu-minggu. Demikian juga batuknya: lama sembuhnya, begitu sembuh, beberapa hari kemudian batuk lagi. Alhamdulillahnya, batuk pilek ini jarang disertai demam, kalaupun iya, paling 2-3 hari demamnya ilang, ngga seperti waktu di indo yang demamnya sampai 2 minggu, bikin ibu kalang kabut, ganti-ganti DSA hingga rawat inap. Cuma kok ya, pileknya itu lho; susah banget ilangnya. Dulu, kata teman2 dan guru2 di daycare, wajar jika anak yang baru masuk daycare akan sering sakit batuk pilek, tapi itu hanya awal-awalnya saja. Lama-lama akan kebal. Tapi kok Fatih sudah lewat dari tiga bulan ga kebal-kebal ya? Bahkan, karena kelamaan dan keseringan pilek, sempat bikin Fatih kena ear infection (Otitis Media ya?), kata dokternya sih, meski ga sampe keluar cairan. Seminggu kemarin, Fatih dah sehat lagi, makan banyak lagi, tidur nyenyak lagi kalau malem dan tentu saja tidak rewel. Ahad sore, hidung Fatih mulai berair lagi. oh, No! benar saja, malamnya Fatih rewel karena hidung mampet. Mulai senen dah males makan, tapi alhamdulillah masih masuk day care dan tetap aktif main. Senen malam dan hari ini kondisinya memburuk, tidak ada nasi masuk (hanya bbrp potong pear dan biskuit), badan anget (ibu tak berhasil mengukur temperaturenya karena fatih berontak), hidung masih mengucur terus dan batuk dengan frekuensi kerap serta sangat rewel. Hari ini Ibu memutuskan Fatih harus istirahat di rumah ( kebetulan juga memang tidak ada jadwal ke day care dan seharian gerimis terus). Belum lagi melihat cara bernapas fatih yang ngos-ngos-an, membuat Ibu khawatir sekali. Mungkin karena trauma masa lalu, membuat ibu tak pernah yakin memastikan Fatih sesak napas atau tidak. Bahkan setelah hilang sejak di Brisbane, semalam trauma Ibu muncul lagi: tiba-tiba ibu terbangun dari tidur dan langsung mengangkat Fatih dan memeriksa Fatih masih bernapas atau tidak. Hari ini, jika Fatih sedang tidur tenang, Ibu browsing dan ngubek-ngubek arsip milis sehat, mencari semua info tentang batuk-pilek-asma-common cold-bronchitis-pneumonia-OMA dan penanganannya. Maafkan Ibu Fatih, harusnya ilmu tentang itu semua sudah ibu cari sejak kamu belum ada, sehingga dulu ketika kau masih sangat bayi tidak perlu terpapar dengan segala macam obat dan antibiotik. Tapi tidak apa, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Sekarang, ibu sedang mencari tahu, bagaimana cara meningkatkan imunitas Fatih, supaya tidak gampang sakit lagi. Ada yang bisa berbagi? Updated: selasa malam, nafas Fatih terlihat berat: tummy breathing, noisy breath (wheezing?) and cuping hidungnya bergerak2. rabu ibu bawa ke dokter: observasi dan dilakukan test lab cairan hidung untuk cek batuk pertusis dan terapi uap dengan ventolin pake nebulizer. Hasilnya Fatih didiagnosis Asma dan ear infection (ada demam dan kemerahan di telinga tengah). Malamnya Fatih tidur nyenyak dan relax mungkin pngaruh terapi uap. Tadi pagi meler lagi banyak, dan kayaknya anget lagi. ke dokter lagi untuk review lanjutan, tapi dengan dokter yang berbeda. hasil pemeriksaan sama: asma dan ear infection, bahkan hari ini suhunya naik ke 38.7. Akhirnya antibiotik ditebus dan ventolin puffer dibeli. minum obat lumayan gampang bagi Fatih, tapi obat semprot untuk asmanya yang susah: sendiri belum bisa, pake masker Fatihnya sudah trauma. Belum lagi Bapak Ibunya yang tidak punya riwayat asma dan tidak punya keluarga dengan asma, jadi masih kagok menggunakan puffer. tadi ventolin dipuff jam 5, tapi hingga sekarang jam 9, tampaknya tidak terlalu berpengaruh. Sungguh, saya masih berharap itu bukan asma, tapi melihat cara bernapas Fatih, rasanya saya harus siap dengan hari-hari mendatang yang berbeda: bahwa Fatih memang mengidap asma. Terima kasih unutk yang telah sharing dan Mohon doanya untuk semua. Hari ini, usia Fatih adalah 20m 2w. Setelah dua minggu lalu ia mencatatkan 2 milestone: makan sayur potong dan tumbuh gigi geraham, hari ini ia mencatatkan lagi milestone berikutnya: Memilih baju yang akan dipakainya. Sekarang, kalau mau mengenakan baju untuk Fatih, Ibu harus bertanya dulu, fatih mau pake baju yang mana. "Fatih pake sweater ya?" (hari ini temperature turun ke 22, setelah ahad siang hingga malam di 30). Jawabnya geleng kepala. Ketika mau dimasukin kaos oblong, Fatih juga tetap menolak. "Sini, Nak. Fatih mau pake baju yang mana?" Ibu membuka laci. Fatih melongok dan akhirnya memilih..." bemen (baca: batman)". Oke deh. Tapi negosiasi masih belum berakhir. Bahkan tadi urusan pake nappy pun harus bargain dulu dengan Fatih sampai hampir setengah jam. "Fatih, your nappy please..." "NO!" (lari menjauh, trus loncat-loncatan di pinggir kasur dekat jendela) "nanti ngompol...." tetap tidak ada respon. Ketika Fatih mendekat lagi, Ibu mencoba lagi _kirain dah lupa dengan moh nappynya_ ternyata masih belum mau. Bahkan pake menjerit. "Ok, do u want to wear your big boy undies?" Ibu mengambil celana toilet training, CD boy (yang belum pernah dipake) plus celana panjang tebal. in case Fatih kebobolan pipis. Tapi tetep, ketika mau dipakai-in: No....no...no....no....!!!!!" walah, kok makin panjang jeritannya. Ya sudah, Ibu menyerah. Ibu ganti strategi. Fatih yang main loncat-loncatan tanpa pakaian bagian bawah ditinggal ke luar, nerusin makan (laper euy, ga makan siang pake nasi -walo abis apel 1). Fatih nangis ketika tersadar Ibu sudah tidak ada di dekatnya, terus menyusul ke depan sambil mewek sedih sekali trus duduk di pangkuan Ibu. "Fatih pake nappy ya? biar ngga ngompol and basah. nanti kita bikin menara lagi?" "Nara..." Fatih masuk ke dalam kamar, mengambil balok-balok puzzle, "bawa...." sambil naik ke tempat tidur kedua tangannya memegang balok2 sebanyak yang dia mampu, trus berbaring. Ealah, le...mau pake nappy aja harus diplomasi dulu. Ternyata.... Milestone berikutnya; Jika ia ingin melakukan sesuatu, maka tak dibiarkannya orang lain mengambil alih peran yang ingin dilakukannya. Misalnya: menutup pintu. Fatih mau dia yang menutup pintu, tapi Ibu sudah terlanjur menutupnya, maka pintu harus dibuka kembali, dan fatih akan menutupnya: mengulang langkah dari awal. Pun tadi saat mau makan sore sepulang sekolah. Biasanya kami berbagi tugas; Fatih mengangkat kursi plastiknya, Ibu mengangkat meja. Tapi hari ini Fatih ingin melakukan sendiri semuanya. Meja yang sudah terlanjur diangkat ibu harus dikembalikan ke tempat semula dan Fatih dengan sungguh-sungguh mencoba mengangkatnya _walau dapat dipastikan gagal, wong mejanya terlalu berat untuk Fatih. Tapi tetap, ia ingin menganngkat mejanya. Akhirnya kami nego lagi. Fatih pegang satu ujung, ibu pegang ujung yang lain terus kita angkat bareng-bareng. Alhamdulillah...
| |